Yesus Sahabat Sejati, dan Tokoh Idola (BAB VI. A)


Yesus Sahabat Sejati, dan Tokoh Idola adalah sub Judul dari Bab VI Yesus, Sahabat, Tokoh Idola, Putera Allah dan Juru Selamat.

Pada bagian ini kita diajak untuk memahami pribadi Yesus Kristus sebagai sahabat sejati, tokoh idola, dan Juru Selamat, serta kita diajak untuk meneladani pribadi Yesus Kristus sebagai sahabat sejati, tokoh idola, dan Juru Selamat.

Injil Yohanes memberi gambaran paham Yesus tentang persahabatan sejati. Yesus menyebut murid-muridNya  sahabat sekalipun banyak perbedaan diantara mereka. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15: 14-15).

Bahkan kepada Yudas Iskariot, salah seorang murid-Nya yang telah mengkhianati dan menjual diri-Nya, Yesus tetap menyapa dia sahabat. “Hai sahabat, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26: 50). Pemahaman Yesus tentang makna persahabatan sejati tidak sebatas kata-kata kosong. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat- sahabatnya” (Yoh 15:13) Ia membuktikan sendiri melalui tindakan, dengan rela menanggung sengsara sampai wafat di salib.

Bagi para murid-Nya,  Yesus tidak hanya dirasakan sebagai sahabat. Bagi mereka,  Yesus juga  adalah  idola  dan  sekaligus model  bagaimana  mencapai kepenuhan hidup sejati. Di hadapan para murid-muridNya, Yesus tampil dengan kepribadian dan tindakan yang sedemikian memesona. Dari situ mereka belajar hidup seperti Yesus. Hal itu dapat dibuktikan, sebab sekalipun Yesus sudah wafat, bangkit dan  naik ke Surga, mereka meneruskan  gaya hidup  dan  kepribadian Yesus dalam Gereja. Dengan demikian para murid maupun Gereja dulu hingga sekarang, tidak hanya mengidolakan, dan tidak pula sekedar meniru, melainkan meneruskan dan memperkembangkannya.

Persahabatan  antar  dua  atau  lebih  orang  bisa terjadi  oleh  berbagai sebab: kesamaan hobi, kesamaan sifat atau karakter, adanya sikap saling membutuhkan, karena merasa cocok dalam pergaulan, dan sebagainya. Persahabatan  merupakan  proses yang tidak dengan sendirinya dapat terjadi, dapat berlangsung sebentar atau lama, tergantung kemampuan masing-masing membangun dan mempertahankannya.

Agar persahabatan dapat harmonis dan langgeng, maka persahabatan perlu dibangun atas dasar:

  • Saling percaya. Percaya bahwa apapun  yang dilakukan  sahabat semata-mata demi kebaikan dan perkembangan yang lebih baik. Maka kritik atau saran apapun, sekalipun menyakitkan, perlu diterima dengan lapang dada. Percaya bahwa tidak ada kebohongan dan maksud kurang baik yang terselubung dalam persabahatan.
  • Saling menerima apa adanya. Memahami bahwa setiap orang itu unik: punyai sikap, karakter, dan kebiasaan yang berbeda. Tidak menuntut sahabat menjadi seperti yang kita inginkan. Menerima kelebihan dan kekurangan sahabat
  • Saling mengasihi. Memberi bantuan  secara tepat tanpa  pamrih, tidak meninggalkan sahabat pada saat sedang mengalami musibah, bencana atau dirundung masalah.
  • Saling memahami dan menghormati. Memahami  kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan. Memahami kapan bisa meminta bantuan dan kapan harus menunda.  Memberi ruang dan waktu: kapan harus sendiri, kapan harus bersama. Memahami bahwa ada hal-hal pribadi yang boleh diketahui dan tidak boleh diketahui. Contoh: sebaiknya tidak membuka catatan harian, HP, tas tanpa izin.

Untuk menjaga keharmonisan persahabatan maka ada sikap yang harus dihindarkan, yaitu:

  • Egoisme: mementingkan dan mencari keuntungan diri sendiri. Dalam persahabatan  orang perlu berpikir: apakah yang saya lakukan merugikan? Apakah membuat sahabat merasa terpaksa atau diperdaya?
  • Kebohongan: dalam persahabatan diperlukan kejujuran. Tetapi kejujuran  perlu  ditempatkan  dan  disampaikan  secara bijaksana agar sahabat dapat menerimanya tanpa marah atau sakit hati.
Ambil Kitab Sucimu, baca dan renungkan Injil Yohanes 15:12-16 !

Dari bacaaan kita suci diatas kita dapatkan beberapa pokok pikiran sbb:

  • Pertama, Yesus menyebut murid-muridNya  sahabat. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. Kutipan ini hendak mempertegas, bahwa mereka baru benar-benar disebut sahabat bilamana mereka saling mengasihi, sebagaimana diperintah Kristus sendiri.
  • Kedua, Bila Yesus menuntut  agar mereka hidup saling mengasihi agar disebut sahabat Dia, Yesus sendiri telah lebih dahulu mengasihi mereka. Yesus mengasihi mereka dengan memberi mereka pengajaran, melihat tanda mukjizat yang tidak dilihat semua orang, Yesus mendoakan mereka (bdk Yoh 17), dan kelak, Yesus akan mengasihi mereka secara paripurna dan sehabis-habisnya dengan wafat-Nya di kayu salib.
  • Ketiga, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari  Bapa-Ku” Persahabatan  Yesus dan  para  murid  bukan  sekedar persahabatan  biasa. Persahabatan  tersebut  dilandasi  oleh perjuangan bersama tentang apa yang telah di dengar Yesus dari bapa-Nya dan yang telah diberitahukan  Yesus kepada para murid-Nya,  yakni perjuangan untuk mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah.
  • Keempat, Para murid itu sahabat istimewa, sebab Yesus telah menetapkan/memilih mereka secara khusus di antara banyak orang yang percaya. Keisitimewaan itu mengandung  konsekuensi, bahwa para murid  diharapkan  mampu menghasilkan buah-buah  persahabatannya dengan Yesus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Keistimewaan itu juga diberikan kepada para murid, sehingga apapun yang mereka minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan dikabulkan.
  • Kelima, Persahabatan Yesus adalah persahabatan yang kekal, yang tidak tegoyahan oleh pengkhianatan  sekalipun. Kepada Yudas Iskariot, salah seorang murid-Nya yang telah mengkhianati dan menjual diri-Nya, Yesus tetap menyapa dia sahabat. “Hai sahabat, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26: 50).
  • Keenam, Sikap dan  tindakan  Yesus dalam  persahabatan  dengan  para  murid- Nya, sungguh mengagumkan. Maka pantaslah Yesus juga kita jadikan sebagai Idola dan model kita dalam memperkembangkan diri dan dalam membangun persahabatan. Dalam kegiatan berikut kita akan mendalami sikap dan kepribadian Yesus agar kita makin mantap mengidolakan Dia.

Yesus adalah tokoh yang dapat dijadikan panutan  bagi kita. Kepribadian-Nya,  ajaran-Nya,  dan  tindakan-Nya  dapat  kita  jadikan panutan dalam hidup kita! Berikut ini adalah sikap Yesus yang dapat menjadi panutan dan idola kita:

  1. Yesus menerima semua orang terutama mereka yang tersingkir. Pada  zaman  Yesus, para  pemimpin  agama  Yahudi menganggap orang miskin, sakit dan berdosa, anak-anak dan kaum perempuan merupakan kelompok masyarakat kelas dua, oleh karena itu mereka tidak pernah diperhitungkan hak-haknya, baik dalam tatanan kemasyarakatan maupun keagamaan. Berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi yang menganggap kelompok  orang-orang  yang  disebut  tadi  sebagai najis  atau  kotor; sebaliknya Yesus bergaul dan  makan  bersama dengan mereka. Yesus tidak memperlakukan orang berdasarkan status sosial atau kedudukan, melainkan berdasarkan kenyataan semua orang itu citra Allah. Kemiskinan membuat seseorang tidak mempunyai orang lain yang dapat diandalkan untuk menolong dan membela mereka, maka mereka hanya dapat mengandalkan Tuhan. Atas dasar ini, Yesus hadir di tengah mereka. Yesus menjadi andalan dan harapan, tempat mereka bergantung.
  2. Yesus berani mengkritik sikap para penguasa. Dalam himpitan para penguasa Romawi yang menjajah bangsanya, banyak pula para pemimpin lokal masyarakat Yahudi pada masa Yesus bertindak korup, menindas dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri, seperti nampak dalam diri Herodes. Atas sikapnya itu, sampai- sampai Yesus menyebut Raja Herodes sebagai serigala (lih. Luk 13:32). Banyak pula para penguasa mencari hormat dan gelar, mereka menyebut dirinya pelindung rakyat, padahal tindakannya justru sebaliknya (bdk, Luk 22:25). Kenyataan ini memprihatinkan Yesus. Yesus justru memperjuangkan suatu tatanan masyarakat yang adil dan beradab. Menurut Yesus, hal itu hanya akan tercapai bila para penguasa menjalankan kepemimpinannya dengan sikap melayani. Kepada para murid-Nya, Yesus berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya  dengan tangan  besi, dan  pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44). Kritik pedas juga disampaikan Yesus kepada ahli-ahli Taurat, orang- orang Farisi, dan kaum munafik, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kaum  munafik,  sebab kamu  sama seperti kuburan yang dilabur putih yang sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh dengan tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat 23:27-28). Keberanian sikap Yesus tersebut tidak bisa diartikan  seolah-olah Yesus anti  penguasa. Ia  justru  mendorong  orang-orang  untuk  tetap melaksanakan kewajiban kepada para penguasa. Tetapi pelaksanaan hak kepada penguasa tersebut jangan sampai melalaikan dan mengalahkan kewajiban  pada  Allah.  “Berikanlah  kepada  kaisar  apa  yang  wajib kamu  berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Jadi, yang dikritik Yesus bukanlah kekuasaannya, melainkan  cara  dan  sikap orang  dalam  menjalankan kekuasaan. Kekuasaan seharusnya semakin menyejahterakan rakyat dan semakin mendekatkan manusia pada Allah.
  3. Yesus mengutamakan kasih dalam menjalankan aturan agama. Bahaya terbesar dalam hidup  beragama antara lain, ketika orang hanya menjalankan  agama berdasarkan  aturan  secara membabi buta, atau berdasarkan penafsiran aturan keagamaan menurut  kemauan diri sendiri tanpa  peduli nilai-nilai kebenaran  yang hakiki. Bila itu yang terjadi, maka yang muncul adalah fanatisme sempit yang disertai dengan sikap merasa diri paling benar dan paling baik, sementara yang berbeda itu salah dan perlu dimusuhi dan dimusnahkan. Fanatisme sempit itu sangat kentara pada diri para pemimpin agama Yahudi, terutama orang- orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sikap Yesus sangat bertolak belakang dengan sikap para pemimpin agama Yahudi. Bagi Yesus aturan keagamaan itu penting sejauh aturan itu membantu manusia untuk mencapai keselamatan seutuh-utuhnya. Yesus sangat  menghormati  hukum  Taurat,  terlebih  menerapkannya  secara benar. “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan meniadakannya, melainkan  untuk  menggenapinya”  (Mat  5:17). Yesus datang  untuk menyempurnakan  dan menunjukkan kebenaran hakiki dari isi Hukum Taurat.  Hal tersebut  tampak  dalam sikap kristisnya terhadap  ajaran- jaran  dalam  Taurat,  misalnya  soal  membunuh   (Mat  5:21-22), soal mempersembahkan persembahan (Mat 5:23-24), soal zinah (Mat 5:27-30), soal perceraian (Mat 5:31-32), soal membalas dendam (Mat 5:38-42), soal kasih kepada musuh (Mat 5:43-48) dan sebagainya.
  4. Yesus adalah pribadi yang beriman. Orang yang beriman bukanlah orang yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Allah. Orang beriman adalah orang yang percaya akan Allah dan senantiasa membangun  relasi dengan-Nya serta yang hidupnya sepenuhnya mau diatur dan dirajai oleh kehendak Allah dalam ketaatan yang penuh, tanpa tedeng aling-aling. Orang beriman adalah orang yang mau melakukan apa saja yang dikehendaki Allah sekalipun seringkali kehendak  Allah itu  tidak  sama  dengan  kehendak  dirinya sebagai manusia.

Pengertian beriman seperti di atas sangat nampak dalam diri Yesus Kristus. Yesus mempunyai relasi yang erat dengan Allah Bapa, dan relasi itu diupayakan antara lain dengan doa dalam setiap saat hidupNya. Ia berdoa saat sedang dibaptis (Luk 3:21), Ia berdoa pagi-pagi benar waktu hari masih gelap (Mrk. 1:35). Ia rehat dari pekerjaan-Nya untuk berdoa (Mrk 6:46, Luk 5:16). Ia berdoa juga pada malam hari (Luk 6:12),Ia berdoa seorang diri saja (Luk 9:18), kadang-kadang ia mengajak para murid menemani-Nya berdoa (Luk 9:28). Ia tidak hanya berdoa untuk diri sendiri, melainkan sering mendoakan murid-Nya dan semua manusia (Yoh. 17:20) Beriman berarti menyerahkan seluruh hidup  secara tolak dan sadar untuk  melakukan  kehendak  Bapa.  Yesus berkata:  “Makanan-Ku  ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan- Nya”. Yoh 4:34.. Ia melupakan keinginan sendiri demi Bapa: “Bapa, kalau boleh jauhkanlah dari pada-Ku penderitaan yang harus Aku alami ini, tetapi jangan menurut kemauanKu, melainkan menurut kemauan Bapa saja” (10k. Luk 22:42). Dan pada akhirnya menyerahkan  seluruh jiwa raga kepada Bapa. Pada saat wafat-Nya Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Luk 23:46


Tulisan ini dipublikasikan di PAKat SMA/K dan tag , . Tandai permalink.

1 Response to Yesus Sahabat Sejati, dan Tokoh Idola (BAB VI. A)

  1. Ping-balik: Yesus, Sahabat, Tokoh Idola, Putra Allah dan Juru Selamat - KATEKESEKATEKESE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *