Yohanes 15:9-11 Renungan


Injil Yohanes 15:9-11

Yoh 15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yoh 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yoh 15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Bahan Renungan

Tinggal Dalam Suasana Kasih Kristus Yesus

Yesus sendiri yang memerintahkan untuk saling mengasihi. Kasih Yesus kepada murid-muridnya bukanlah kasih yang pura-pura tetapi kasih yang tulus, kasih kepada seorang sahabat. Kasih yang dilakukan seseorang kepada sahabatnya, maka perbuatannya itu tidak mengikat, tanpa mengharapkan balas jasa tetapi murni menolong sahabatnya itu. Sebab, sekalipun seorang sahabat itu tidak berbuat apa-apa, mereka akan tetap bersahabat. Tetapi, seorang sahabat yang baik tidak ragu-ragu untuk memberikan yang termahal dari dirinya, termasuk nyawanya demi sahabatnya. Para murid yang telah tinggal di dalam Yesus, maka perbuatan untuk mengasihi bukan lagi pilihan tetapi ketetapan Allah. Artinya, orang yang berbuat kasih itu bukan lagi perintah dari dirinya melainkan perintah Tuhan. Mengasihi akan menjadi karakter dari orang yang tinggal di dalam Kristus.

ket gambar: aleteia.org

Perintah untuk saling mengasihi ini disampaikan ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai “pokok anggur yang benar.” ( lih. Yoh. 15:1-8)  Dalam perumpamaan ini Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar” dan murid-murid-Nya sebagai “ranting”. Dengan tetap terpaut pada-Nya sebagai Sumber kehidupan, mereka dapat menghasilkan buah. Allah dilukiskan sebagai tukang kebun yang memelihara ranting-ranting itu supaya tetap berbuah. Perumpamaan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Kristus tidak percaya kalau “sekali ranting, selama-lamanya tetap ranting”.

Sebaliknya, melalui perumpamaan ini Yesus memberikan murid-murid-Nya peringatan yang serius namun penuh kasih bahwa ada kemungkinan orang yang sungguh percaya meninggalkan imannya, tidak tetap tinggal dalam Yesus hingga dicampakkan ke dalam api neraka. Setelah seseorang percaya kepada Kristus dan menerima pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal dan kuasa untuk tetap tinggal di dalam Kristus. Setelah kuasa itu diberikan, orang percaya harus menerima tanggung jawab supaya tetap selamat dan tinggal di dalam Kristus. Sebagaimana ranting hanya dapat hidup selama hidup dari pokok anggur mengalir ke dalamnya, demikian pula orang percaya hanya mempunyai hidup Kristus selama hidup Kristus mengalir ke dalamnya dengan tetap tinggal di dalam Dia.

Yesus menjadikan kasih sebagai hukum yang utama dan pertama. Ini berarti bahwa dalam Tuhan kita menemukan sumber cinta kasih dan kebaikan. Bila kita mengasihi, kita tidak terlepas dari Tuhan. Setiap orang yang tidak terlepas dari Tuhan dan tinggal dalam kasih-Nya akan mengalami sukacita dan kegembiraan. Kasih mendatangkan sukacita dan kegembiraan. Para murid yang telah tinggal di dalam Yesus, maka perbuatan untuk mengasihi bukan lagi pilihan tetapi ketetapan Allah. Artinya, orang yang berbuat kasih itu bukan lagi perintah dari dirinya melainkan perintah Tuhan. Mengasihi akan menjadi karakter dari orang yang tinggal di dalam Kristus.

Kasih sejati timbul atau berasal dari sumber kasih itu sendiri yaitu Allah. Kasih sejati yang dimaksud bukan sekedar luapan emosi, tapi merupakan suatu pribadi. Jadi kasih itu bukanlah sekedar sifat atau bentuk emosi tertentu dari Allah, tetapi kasih adalah eksistensi Allah itu sendiri yang dinyatakan secara total melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, mati untuk menebus dosa kita. Ada tertulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (lih. Yoh 3:16).

Sudah sepantasnya kita sebagai anak-anak-Nya tinggal di dalam Kasih Yesus. Kita tinggal di dalam Tuhan melalui hubungan yang kita lakukan dengan doa dan juga keseharian kehidupan kita. Maka perlu disadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Pada akhirnya, semua manusia akan meninggalkan dunia ini dan menghadap Tuhan. Semua itu membuat kita tinggal di dalamnya. Semua itu akan membangun relasi yang begitu indah bersama Tuhan. Dengan hubungan yang indah dengan Tuhan maka kita dimampukan melakukan perintah-Nya, untuk saling mengasihi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *