B. Yesus Mewartakan dan Memperjuangkan Kerajaan Allah


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X Bab IV. Yesus Mewartakan dan Memperjuangkan Kerajaan Allah. Dengan tema B. Yesus Mewartakan dan Memperjuangkan Kerajaan Allah. Materi mengajak kita untuk memahami bahwa Yesus berupaya mengajak manusia memahami Kerajaan Allah dan upaya itu ditempuh melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Melalui contoh pentingnya perumpamaan dalam hidup sehari-hari serta cerita tentang orang yang ditinggalkan karena ceramahnya tidak mencerminkan tindakannya, peserta didik mampu menyadari perlunya pewartaan yang mudah dimengerti, serta pentingnya kesatuan antara kata dan perbuatan.

Dalam masyarakat kerap kita temui, banyak calon pemimpin atau wakil rakyat di pemerintahan maupun legislatif, yang pada saat berkampanye mempertunjukkan orasi yang luar biasa. Semangat mereka sangat berapi-api, janji-janji untuk menyejahterakan rakyat, untuk menegakkan keadilan, untuk menciptakan masyarakat yang toleran sangat luar biasa. Tetapi seiring perjalanan waktu, seringkali rakyat dikecewakan oleh mereka. Janji-janji yang pernah diucapkan itu tidak mereka buktikan sendiri. Setelah mereka benar-benar terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat, mereka yang seharusnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat banyak malah menyejahterakan diri sendiri, keluarganya, kelompoknya atau partainya. Mereka yang seharusnya memperjuangkan dan menegakkan keadilan justru berbuat tidak adil. Mereka yang seharusnya memperjuangkan toleransi, malah menjadi intoleran dan menjadi pemicu pertentangan antarmasyarakat, antargolongan dan antaragama. Masyarakat kecewa karena banyak pemimpin dan wakil rakyatnya bersikap NATO (No action, Talk only = hanya bicara tanpa berbuat). Bila demikian halnya yang terjadi, maka lama-kelamaan tingkat kepercayaan mereka makin menipis, dan pada akhirnya mereka tidak akan diikuti.

Kitab Suci Perjanjian Baru memperlihatkan kenyataan yang sangat berbeda antara sikap para pemimpin atau wakil rakyat yang digambarkan di atas, dengan sikap Yesus dalam perjuangannya mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah, Yesus tidak hanya menyampaikan pengajaran melalui kata-kata maupun perumpamaan, melainkan juga melalui tindakan konkret. Perkataan dan perbuatan Yesus merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan (lihat Matius 11: 5-6; bandingkan Lukas 11: 5-6). Perkataan atau sabda Yesus menjelaskan atau menerangkan perbuatan-perbuatan-Nya, sebaliknya perbuatan Yesus mewujudnyatakan perkataan-Nya. Dalam mewartakan Kerajaan Allah, Yesus tidak hanya berkeinginan agar masyarakat-Nya memahami konsep-konsep Kerajaan Allah, melainkan berupaya agar masyarakat-Nya dapat melihat sendiri tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah itu dan terutama merasakan sendiri pengalaman akan Allah yang hadir dan menunjukkan kuasa-Nya yang menyelamatkan. Bagi Yesus Kerajaan Allah bukan sekedar janji-janji di masa depan, melainkan realitas yang bisa dihadirkan dan dirasakan di dunia, sambil menunggu kepenuhannya pada akhir zaman.

Mendalami Pewartaan Yesus Melalui Perumpamaan dan Tindakan-Nya. Hal tersebut dapat kita pelajari dari Matius 13:1-53

Mat 13:1Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
Mat 13:2Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
Mat 13:3Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
Mat 13:4Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Mat 13:5Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Mat 13:6Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Mat 13:7Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
Mat 13:8Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Mat 13:9Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”
Mat 13:10Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?”
Mat 13:11Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
Mat 13:12Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 13:13Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Mat 13:14Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
Mat 13:15Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Mat 13:16Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
Mat 13:17Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
Mat 13:18Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
Mat 13:19Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Mat 13:20Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
Mat 13:21Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
Mat 13:22Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Mat 13:23Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
Mat 13:24Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
Mat 13:25Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
Mat 13:26Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
Mat 13:27Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
Mat 13:28Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
Mat 13:29Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
Mat 13:30Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”
Mat 13:31Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.
Mat 13:32Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Mat 13:33Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”
Mat 13:34Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,
Mat 13:35supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”
Mat 13:36Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.”
Mat 13:37Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;
Mat 13:38ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.
Mat 13:39Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.
Mat 13:40Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.
Mat 13:41Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
Mat 13:42Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:43Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”
Mat 13:44“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Mat 13:45Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
Mat 13:47“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.”
Mat 13:52Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Mat 13:53Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ.

Dalam banyak kesempatan Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Perumpamaan itu diambil dari hal-hal yang sangat dekat dengan dunia pendengarnya, misalnya dengan menggunakan simbol penabur, biji sesawi, dsb. Sesungguhnya bila Yesus menyampaikan warta tentang Kerajaan Allah, Ia berharap agar siapapun yang mendengarnya dapat mengerti kehendak Allah yang tersembunyi di balik perumpamaan tersebut (bandingkan Ayat 34-35)

Tetapi pewartaan Yesus melalui perumpamaan baru akan dimengerti bila manusia memiliki sikap mau mendengarkan, tidak sekedar mendengar, tetapi memperhatikan dengan seksama, dan tidak sekedar melihat. Hanya mereka yang memiliki keterbukaan hati bagi kehendak Allah yang dapat menemukan pesan tersembunyi dari perumpamaan tersebut. (bandingkan Ayat 13)

Perumpamaan penabur sudah dijelaskan Yesus dalam ayat 19-23. Melalui perumpamaan yang serupa, pada ayat 24-30, Yesus hendak menegaskan bahwa perjuangan menegakkan Kerajaan Allah bukanlah tindakan yang mudah. Perjuangan menegakkan Kerajaan Allah kerap mendapatkan halangan dan rintangan, terutama dari kekuatan jahat (musuh) yang menentang kebaikan dan kebenaran. Tetapi Yesus menegaskan bahwa kita harus kuat sehingga mampu mengalahkan kekuatan jahat apapun dan dari siapapun.

Perumpamaan biji sesawi dan ragi hendak mengajarkan kepada kita, bahwa kadang-kadang perjuangan menegakkan Kerajaan Allah bisa dimulai dari hal-hal kecil, hal-hal yang nampak sepele. Tetapi bila yang sederhana itu ditekuni dan dibiasakan akan mampu memberi dampak kebaikan yang lebih besar.

Perumpamaan harta terpendam dan mutiara berharga, hendak mengatakan bahwa bilamana Kerajaan Allah itu sebagai sesuatu yang penting dan berharga siapapun akan berusaha mencapainya, bahkan dengan berani berkorban meninggalkan dan menjual miliknya yang selama ini dianggap berharga.
Yesus tidak memakai paksaan dan kekerasan dalam mewartakan Kerajaan Allah. Walaupun demikian, melalui perumpamaan pukat, di akhir zaman, manusia akan diadili dan dipisahkan antara yang menerima dan melakukan Kerajaan Allah dengan yang menolaknya
Kerajaan baru bermakna dan membangun hidup kita bila kita mau mengosongkan diri, membongkar hidup kita yang lama, meninggalkan apa yang selama dianggap paling baik dan berguna bagi hidup, dan sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juru Selamat yang lebih berharga dari segala-galanya dalam hidup.  

Tindakan Yesus yang dikisahkan diatas merupakan peristiwa mukjizat.

Yoh 11:17Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.
Yoh 11:19Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Yoh 11:20Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
Yoh 11:21Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Yoh 11:22Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”
Yoh 11:23Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”
Yoh 11:24Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”
Yoh 11:25Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yoh 11:26dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Yoh 11:27Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”
Yoh 11:28Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.”
Yoh 11:29Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
Yoh 11:30Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.
Yoh 11:31Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
Yoh 11:32Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Yoh 11:33Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
Yoh 11:34“Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”
Yoh 11:35Maka menangislah Yesus.
Yoh 11:36Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!”
Yoh 11:37Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”
Yoh 11:38Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.
Yoh 11:39Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”
Yoh 11:40Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”
Yoh 11:41Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
Yoh 11:42Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
Yoh 11:43Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”
Yoh 11:44Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”
Yoh 11:45Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari mati dan dikuburkan. Orang-orang Yahudi mempunyai keyakinan, bahwa kuasa untuk membangkitkan orang mati hanya dimiliki Allah, karena Allahlah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Maka ketika Yesus mampu melakukan itu, mereka heran.

Injil Yohanes hendak menegaskan, bahwa mukjizat Yesus menjadi tanda heran, yang membuat orang bertanya siapa gerangan yang memampukan Yesus bisa melakukan hal itu? Bukankah hanya Allah yang bisa melakukannya? Kalau demikian siapa Dia?
Tanda heran itu mengantar kepada iman akan Allah (bdk. Ayat 40). Bahkan lebih dari itu, mereka akhirnya percaya akan Yesus sebagai Mesias utusan Bapa (bandingkan Ayat 45). Karya keselamatan Allah diwujudnyatakan dalam diri Yesus.
Dengan membangkitkan orang mati Yesus menunjukkan kepada dunia bahwa Allah berkuasa atas hidup dan kematian manusia, dan bahwa Ia tidak akan membiarkan manusia dikungkung oleh kematian, maka Ia membangkitkannya. Maka selayaknyalah manusia bersujud syukur atas karya Allah tersebut.

Nilai-Nilai Duniawi dan Nilai-Nilai Kerajaan Allah

Uang dan harta kekayaan Siapa orangnya, yang pada zaman sekarang ini tidak membutuhkan uang dan harta? Bahkan ada sebagian orang berani mengorbankan kebersamaan dengan keluarganya, tetangganya dan orang-orang yang dikasihinya demi mengejar uang, mereka menggunakan seluruh waktunya, bahkan dengan menghalalkan segala cara untuk mengejar dan mengumpulkan uang dan harta kekayaan. Demi uang dan harta kekayaan, banyak orang lupa akan tugas mengembangkan imannya, mereka lupa berdoa, mereka lupa berbagi, mereka lupa akan Tuhannya. Mereka menganggap seolah-olah uang dapat menjamin segalanya. Dalam Injil Markus, (Markus 10: 24-25), Yesus pernah memperingatkan orang yang hidupnya dikuasai nafsu akan uang dan harta kekayaan “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”, Yesus mengulangi dan menegaskan sekali lagi “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Uang dan harta kekayaan tentu saja perlu untuk hidup, tetapi Yesus mengajak kita untuk tidak diperbudak uang dan harta kekayaan.
Kekuasaan dan Jabatan Siapa orangnya, yang pada zaman sekarang tidak tergiur dengan kekuasaan dan jabatan. Bahkan untuk memperolehnya, banyak orang berani membayar mahal, banyak orang meminta bantuan paranormal dan memenuhi berbagai syarat yang dimintanya. Dengan kekuasaan dan jabatan, banyak orang bisa mendapatkan segala yang diinginkannya. Dengan kekuasaan dan jabatan banyak orang merasa senang karena ditakuti, dihormati, disanjung oleh orang lain. Dengan kekuasaan dan jabatan banyak orang merasa dapat memperlakukan orang lain sesuai dengan keinginannya. Sebagai Anak Allah, Yesus mempunyai kuasa dan jabatan melebihi kuasa dan jabatan manusia, bahkan lebih tinggi dari malaikat. Tetapi semuanya itu tidak Ia gunakan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.(Filipi 2:7)
Harga Diri dan Kehormatan Harga diri, kehormatan atau gengsi tentu saja penting bila ukurannya didasari kebenaran dan kelayakan serta diperoleh dengan cara yang baik atas dasar tertentu, diri seseorang perlu dihargai, tidak boleh dilecehkan, tidak boleh dihinakan. Tetapi dalam zaman sekarang ini harga diri, kehormatan atau gengsi sering disalah artikan. Banyak orang mengukur harga diri dari apa yang dimilikinya: pangkat, kedudukan, harta bukan atas dasar kepribadian, dan keteladanannya Demi menjaga harga diri, orang yang bersalah berani berbohong dan mengaku seolah-olah benar. Demi menjaga harga diri seorang pimpinan menimpakan kesalahan pada bawahannya. Demi menjaga harga diri orang berani menjelekkan, atau merendahkan orang lain agar seolah dirinyalah yang paling hebat.   Dalam pewartaan tentang Kerajaan Allah, Yesus telah mengingatkan: “….sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Surga” (Matius 18: 1-4). Harga diri seseorang justru terletak pada kerendahan hatinya, yang mau bersikap seperti anak kecil: polos, jujur, bersahaja, tidak menutup-nutupi kekurangan, dan tidak membohongi diri sendiri dan orang lain Harga diri justru terletak pada kesediaan berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan sesama, hidup dalam kebersamaan tanpa sekat, tanpa merasa lebih baik atau lebih suci. Yesus menunjukkan hal tersebut saat ia makan bersama dengan orang berdosa, seperti dengan Lewi si pemungut cukai (Lukas 5: 29), dan menumpang di rumah Zakeus (Lukas 19: 5-7)  
Kasih Kerajaan Allah ditandai dengan kasih antar manusia, kasih yang tidak lagi dibatasi atas dasar kesamaan suku, agama, ras, semata. Kasih yang diperjuangkan Yesus adalah kasih yang universal dan terbuka, kasih yang juga tertuju pada orang-orang yang memusuhi, menganiaya, memfitnah, atau menganiaya. “Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5: 44). “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah untuk orang yang mencaci kamu” (Lukas 6: 27-28). Model kasih yang diperjuangkan Yesus itulah yang membuat komunitas kita berbeda. “Dan jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Lukas 6: 32).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *