Tata Perayaan Liturgi


Faktor Penentu 3 dalam mengikuti Perayaan Ekaristi yang baik adalah Tata Perayaan Liturgi . Perayaan yang seringkali kita ikuti atau ikut rayakan tetapi baiklah pada saat ini kita kembali mengingat-ingat tentang tata perayaan liturgi itu. Semoga kita tetap bersemangat dan berpartisipasi aktif dalam mengikuti perayaan agung tersebut.

Matius 7: 7 – 12

Mat 7:7“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Mat 7:8Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Mat 7:9Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
Mat 7:10atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Mat 7:11Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Mat 7:12“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
  • Liturgi (dari bahasa Yunani) ialah Ibadat Umum dan Resmi Gereja, artinya yang dilaksanakan berdasarkan tatacara cara yang sudah disahkan oleh pimpinan Gereja yang berwenang, dan dipimpin oleh petugas yang ditentukan untuk ibadat yang bersangkutan (Kamus Liturgi). Sifatnya resmi karena ditentukan sendiri oleh Kristus atau Gereja atas nama Kristus. Tata Perayaan: rangkaian acara yang harus diikuti dalam merayakan liturgi. Misalnya: tata perayaan Ekaristi
  • “Dimana dua atau tiga orang berhimpun dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Di dalam perayaan Ekaristi, umat Allah berhimpun untuk mengenangkan Tuhan atau merayakan kurban Kristus yang dipimpin oleh imam yang bertindak selaku pribadi Kristus (In persona Christi).

Misa terdiri dari 2 bagian besar: yaitu Litrugi Sabda dimana Allah dihidangkan untuk menjadi pengajaran bagi umat dan Liturgi Ekaristi dimana Tubuh Kristus dihidangkan menjadi makanan keselamatan bagi umat. Keduanya berhubungan erat satu sama lain. Selain itu ada Ritus Pembuka dan Ritus Penutup.

  • Misa dibagi menjadi 4  secara berurutan yaitu :
  • Ritus Pembuka: Perarakan Masuk, Penghormatan Altar dan Salam kepada umat, Pernyataan Tobat, Tuhan kasihanilah, Kemuliaan, Doa Pembuka
  • Liturgi Sabda: Saat hening, Bacaan-bacaan dari Alkitab, Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Injil, Homili, Pernyataan Iman, Doa Umat
  • Liturgi Ekaristi: Persiapan Persembahan, Doa Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, Ritus komuni, Bapa Kami, Ritus Damai, Pemecahan Roti, Komuni

D. Ritus Penutup

–    Ritus Pembuka, Ritus pembuka adalah bagian yang mendahului Liturgi Sabda. Tujuannya yaitu untuk mempersatukan umat untuk berhimpun dan mempersiapkan hati untuk mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian dan dapat merayakan Ekaristi dengan baik dan benar.

–    Liturgi Sabda. Bacaan-bacaan dari Alkitab dan nyanyian-nyanyian/mazmur tanggapan merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda. Lewat sabdaNya, Kristus hadir di tengah-tengah umat.. Bacaan-bacaan tersebut selalu dibacakan dari mimbar. Bacaan dilakukan oleh petugas terkait. Sedangkan Injil dibacakan oleh diakon, atau oleh imam lain yang tidak memimpin perayaan atau kalau tidak ada, bisa dibacakan oleh imam pemimpin perayaan itu sendiri. (PUMR). Pembacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda.

     Pada umumnya Homili diberikan oleh imam pemimpin perayaan. Tapi ia dapat menyerahkan tugas itu kepada seorang imam konselebran, kepada diakon. Pada kesempatan tertentu tugas homili dapat diberikan kepada seorang uskup atau imam yang hadir dalam perayaan tetapi tidak ikut berkonselebrasi. Perayaan di hari Minggu dan pesta-pesta yang dihadiri oleh umat, homili harus diadakan.

     Pernyataan iman atau syahadat bermaksud agar seluruh umat dapat menanggapi Sabda Allah yang dibacakan dari Alkitab dan dijelaskan dalam homili.          

  • Liturgi Ekaristi. Dalam perjamuan malam terakhir Kristus menetapkan kurban dan perjamuan Paskah yang terus menerus menghadirkan kurban salib dalam Gereja. Hal ini terjadi setiap kali imam, atas nama Kristus Tuhan melakukan perayaan yang sama seperti yang dilakukan oleh Tuhan sendiri dan Dia wariskan kepada murid-murid-Nya sebagai kenangan akan Dia (PUMR 72). Doa Syukur Agung merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan. Dalam konsekrasi kata-kata dan tindakan Kristus sendiri diulangi. Kristus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur, dan memberikannya kepada para Rasul untuk dimakan dan diminum lalu mengamanatkan kepada mereka supaya merayakan misteri itu terus menerus.
  • Ritus Penutup. Dalam ritus penutup imam memberikan berkat yang adalah berkat dari Allah sendiri. Juga pengutusan umat oleh diakon atau imam. Dengan ini umat menjadi saksi dan utusan Allah dalam membawa Kabar Sukacita Injil.
  • Seluruh kegiatan dalam misa ini, umat hendaknya berperan aktif. Dalam nyanyian-nyanyian, jawaban-jawaban doa juga dalam tata gerak liturgi. Bukan hanya menjadi penonton saja yang menikmati setiap adegan yang disuguhkan.
  • Hidup solider adalah hidup berbelarasa, seperasaan, sepenanggungan, merasa mengalami hal yang sama dengan orang yang menderita kesusahan. Seperti Yesus yang kita kenangkan dalam perjamuan Ekaristi. Dimana kita kembali diingatkan akan kurban Yesus di atas kayu salib sebagai bentuk nyata rasa solider dengan umat manusia. Dia yang tanda noda dan dosa tetapi rela menderita untuk kita. Dia mau berbagi penderitaan dengan umat manusia.

Kalau Dia yang Mahaagung saja mau seperasaan dan sepenanggungan dengan kita kita manusia hendaknya kita juga mau meniru apa yang telah diperbuat-Nya.

Bersyukur atas semua nikmat yang telah kita terima dari Allah bukan hanya di bibir saja. Tapi melakukan karya amal kasih pada sesama. Kalau kita mencintai Ekaristi hendaknya hidup kita semakin Ekaristis, hidup yang penuh syukur. Ekaristi mengalir dalam seluruh kehidupan kita.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *