Tanda Salib dalam Ekaristi


Tanda salib merupakan tindakan doa yang secara simbolik mengingatkan kita akan peristiwa salib. Inti dari perayaan ekaristi ini adalah pengenangan dan kerinduan kita akan penebusan Yesus Kristus yang dilakukan-Nya dengan menempuh jalan Salib. Jalan salib yang ditempuh-Nya  itu adalah bukti kecintaan dan kesetiaan pada Bapa-Nya. Kehendak Bapnya adalah menyelamatkan Manusia yang adalah citnya Allah. Oleh karena itu setelah kebangkitan-Nya, Ia mengutus Roh Kudus untuk membimbing dan mendampingi manusia yang telah ditebusnya agar sampai pada Bapa-Nya.

Dengan Demikian tanda salib mempunyai rumusan: “Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” dan kita setuju tanda itu sebagai tanda kemenangan dengan menjawab “Amin”.

Dalam setiap ibadat, kita mengawali dan mengakhirinya dengan membuat tanda salib: Demi (Dalam) Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus dan kita semua setuju dengan mengatakan “Amin”,

Tanda salib merupakan tindakan doa yang secara simbolik mengingatkan kita akan peristiwa salib. Inti dari perayaan Ekaristi ini adalah pengenangan dan syukur kita akan penebusan Yesus Kristus yang dilakukan-Nya dengan menempuh jalan Salib. Jalan salib yang ditempuh-Nya  itu adalah bukti kecintaan dan kesetiaan pada Bapa-Nya. Kehendak Bapa-Nya adalah menyelamaatkan manusia yang adalah citra Allah. Oleh karena itu setelah kebangkitan-Nya, Ia mengutus Roh Kudus untuk membimbing dan memdampingi manusia yang telah ditebusnya agar sampai pada BapaNya.

Dikatakan sebagai tindakan DOA. Tanda salib adalah doa yang paling singkat. Biasanya sebelum makan dan sesudah makan, apalagi kalau makan di luar rumah, tak jarang kita takut-takut untuk menunjukkan identitas kita sebagai orang katolik, maka hanya membuat tanda salib saja.

Tanda Salib juga disebut sebagai tanda kemenangan Kristus atas maut.

Melalui salib penyelamatan manusia terlaksana. Tawaran keselamatan Allah sudah dimulai sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan berpuncak dalam diri Yesus Kristus.

Dosa membuat manusia menjauh dari Bapa yang maha baik. Dalam perumpamaan injil ini tampak jelas bahwa Bapa tidak pernah memaksakan kebahagiaan dalam kebersamaan denganNya. Sejak si bungsu meninggalkan Bapanya, sang Bapa selalu merindukan untuk bisa bersatu lagi.

Dalam masa pandemi ini, kita semua terdampak. Inilah saat bagi kita untuk merenungkan kembali tujuan hidup kita. Seperti si anak bungsu yang teringat akan kebahagiaan bersama Bapanya, maka ia bangkit dan melangkah kembali kepada bapanya.

Pertobatan dimulai dari kesadaran akan kedosaan dilanjutkan dengan melangkah meninggalkan kedosaan untuk kembali pada Bapa sang sumber kasih.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *