Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja


Hieronimus atau Eusebius Sophronius Hieronymus adalah seorang imam, konfesor, teolog, dan sejarawan. Pada setiap tanggal 30 September, Gereja Katolik memperingati Santo Hieronimus. Dia adalah seorang Pujangga Gereja abad ke-4, yang sangat ahli dalam 3 bahasa klasik, yakni Latin, Yunani dan Ibrani.

Salah satu di antara berbagai tugas yang diembannya adalah melakukan revisi terhadap naskah Alkitab Latin ke Perjanjian Baru berbasis naskah Yunani dan Perjanjian Lama berbasis naskah Ibrani. Sebelum adanya karya terjemahan Hieronimus, seluruh terjemahan Kitab Perjanjian Lama didasarkan atas Septuaginta. Meskipun ditentang oleh warga Kristen lainnya termasuk Agustinus sendiri, dia memilih untuk menggunakan Kitab Perjanjian Lama Ibrani, bukannya Septuaginta.

Santo Hieronimus dalam studinya, karya Domenico Ghirlandaio

Santo Hieronimus dalam studinya, karya Domenico Ghirlandaio. Sumber: wikipedia

Untuk menunaikan tugas itu, ia tinggal di Betlehem selama 30 tahun. Selama kurun waktu itu, ia berhasil membuat terjemahan baru Kitab Suci dalam Bahasa Latin (Vulgata). Perjanjian Lama diterjemahkannya dari bahasa Ibrani dan Aramik ke dalam Bahasa Latin, sedangkan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke Bahasa Latin.

Keakrabannya dengan Kitab Suci membuatnya berkesimpulan bahwa Kitab Suci merupakan sarana utama untuk mengenal Kristus. Ia mengatakan, “Tidak mengenal Kitab Suci, berarti tidak mengenal Kristus”.

Kitab Suci membantu kita untuk mengenal Yesus secara utuh, mulai dari preeksistensinya sebagaimana diramalkan dan dipersiapkan dalam Perjanjian Lama, kelahiran-Nya, karya dan pengajaran-Nya, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya serta kenaikan-Nya ke surga, juga karya dan penyertaan-Nya dalam diri para murid dan Gereja Perdana. Semua yang dilakukan-Nya tersebut mempunyai satu tujuan, yakni demi keselamatan kita.

Di Betlehem, Hieronimus mendirikan dua buah biara. Salah satunya diperuntukkan bagi para biarawati di bawah pimpinan St. Paula dan selanjutnya oleh St. Eustachia. Dua biara itu kemudian dibakar oleh para pengikut bidaah Pelagianisme. Kendati sangat berduka, Hieronimus terus giat menulis dan mengajar hingga wafatnya di tahun 420. Ia dinyatakan Gereja sebagai Orang Kudus sekaligus sebagai seorang Pujangga Gereja yang besar.

Hieronimus meninggal dunia di dekat kota Betlehem pada tanggal 30 September 420. Tanggal kematiannya diperoleh dari kitab Chronicon karya Santo Prosper dari Aquitaine. Jenazahnya mula-mula dimakamkan di Betlehem, dan konon kemudian dipindahkan ke gereja Santa Maria Maggiore di Roma, meskipun berbagai tempat di Barat mengaku memiliki relikui Hieronimus—katedral di Nepi, Italia mengaku menyimpan kepalanya, yang menurut tradisi lain tersimpan di Biara Kerajaan Spanyol, San Lorenzo de El Escorial, Madrid.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.