Ritus Pembuka dan Penutup


Ritus Pembuka dan Ritus Penutup dalam Ekaristi. Bacaan yang kita renungkan diambil dari Injil Yohanes 2: 13-25: “Rombaklah Bait Suci ini, maka dalam waktu tiga hari Aku akan membangunnya kembali”.

Ekaristi adalah suatu ibadat resmi. Sebagai suatu ibadat resmi, maka Ekaristi  mempunyai struktur yang baku dan tetap. Tema pembahasan kita pada kesempatan ini adalah Ritus Pembuka dan Ritus Penutup

Ritus Pembuka:

Ritus Pembuka meliputi bagian-bagian yang mendahului Liturgi Sabda, yaitu perarakan masuk, salam, kata pengantar, pernyataan tobat, Tuhan Kasihanilah, Kemuliaan, dan doa pembuka; semua bagian ini memiliki ciri khas sebagai pembuka, pengantar, dan persiapan.

Tujuan semua bagian itu ialah mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka, supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.

Setibanya di panti imam, imam, diakon, dan para pelayan menghormati altar dengan membungkuk khidmat (PUMR 49). Sering kali menjadi pertanyaan umat: “Kalau kita masuk ke gereja membuat tanda salib dan berlutut, kita menghormati apa?” PUMR menjawab secara jelas bahwa pada saat mengawali misa suci kita diajak menghormati Altar.  Pertanyaannya: ”mengapa Altar”. Altar atau dalam Kitab Suci Perjanjian Lama sering disebut sebagai misbah adalah tempat suci Allah. Di tempat ini dipersembahkan kurban bakti manusia kepada Allah.

PUMR 296 merumuskan altar sebagai ”tempat untuk menghadirkan kurban Salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu, altar juga merupakan pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Misa.” Ada tiga metafora yang saling melengkapi: altar untuk kurban Tubuh-Darah Kristus, meja Tuhan untuk perjamuan di akhir zaman, dan pusat pengucapan syukur umat dalam kesatuan dengan seluruh Gereja. Altar itu sebaiknya permanen, materinya batu, dan berbentuk meja, sehingga secara jelas dan lestari menghadirkan Kristus, Sang Batu Hidup (1 Ptr 2:4).

Ritus Penutup:

Ritus Penutup terdiri atas: a) Amanat singkat, kalau diperlukan; b) Salam dan berkat imam, yang pada hari-hari dan kesempatan tertentu disemarakkan dengan berkat meriah atau dengan doa untuk jemaat; c) Pengutusan jemaat oleh diakon atau imam; d) Penghormatan altar: imam dan diakon mencium altar; e) Kemudian mereka bersama para pelayan yang lain membungkuk khidmat ke arah altar.

Ritus penutup ini menjadi penting karena disana kita diingatkan bahwa setelah kita merayaan perjamuan Tuhan dan menerima berkat-Nya, kita diutus untuk mewartakan suka cita kabar gembira Allah yang telah kita terima dan nikmati. Rumusan yang digunakan adalah: “Pergilah, engkau diutus”.

Bacaan injil kali ini mengisahkan sikap Yesus yang mau membersihkan Bait Allah dari hal-hal yang menghalangi umat berjumpa dengan Allah. Pernyataan Yesus: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”, menyiratkan peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam perayaan Ekaristi kita merayakan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Karya penyelamatan melalui Yesus menjadi istimewa kerena ditebus dengan darah-Nya sendiri. Oleh karena itu sakramen Ekaristi bagi kita oarang katolik merupakan puncak dan sumber hidup beriman. Supaya Ekariti bisa kita rasakan maknanya maka kita harus membersihkan diri dari hal-hal yang menghalangi kita untuk berjumpa dengan Allah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *