Liturgi menurut Konsili Vatikan II


Liturgi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani ‘leitourgia’ yang berarti kerja sama. Kerja sama ini mengandung makna peribadatan kepada Alah dan pelaksanaan kasih. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya.(lih. Katekismus Gereja Katolik –KGK 1069).

Konsili Vatikan II tidak memberikan arti liturgi secara definitif, akan tetapi membuahkan pemahaman yang mendalam yang dirangkum dalam dokumen Konstitusi Sacrosanctum Concilium. SC 7 menyatakan liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; sebagai ibadat umum yang seutuhnya dilakukan oleh Tubuh Mistik Kristus, yakni Kepala beserta para anggotanya, sebagai karya Kristus sang Imam serta tubuh-Nya yakni Gereja. Nilai yang penting dan fundamental dari liturgi adalah kehadiran Kristus dalam Ekaristi, dalam sakramen-sakramen, Sabda Allah dan dalam liturgi harian. Liturgi dipandang sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di dalamnya pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda- tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing.

Liturgi dalam Gereja Katolik merupakan tradisi yang diwariskan dan dipelihara, bahkan dikembangkan oleh umat beriman sebagai salah satu cara bersyukur, sekaligus menjaga rasa syukur, dan sebagai ungakapan sembah bakti kepada Allah secara pribadi maupun bersama-sama. Dengan berliturgi yang baik dan benar, umat berkomunikasi langsung dengan Allah dalam doa, nyanyian pujian, aklamasi. Dalam liturgi, umat dapat menimba inspirasi, motivasi, serta mengenangkan cinta kasih Allah yang dapat memberi semangat dalam menanggapi panggilan dan perutusan.

Sungguh disayangkan kalau masih sering kita jumpai beberapa sahabat, saudara, oknum umat yang mengikuti kegiatan liturgi dengan tidak benar dengan main gadget , handphone, ngobrol sendiri, dan tidak fokus, dan terkadang datang terlambat, pulang mendahului, pandai mengkritik, mencela tetapi hanya sebagai penonton, tidak mau terlibat. Sungguh sangat disayangkan!

Mengikuti liturgi peribadatan memang harus dengan persiapan, khususnya persiapan hati, karena kita akan menghadap dan berkomunikasi dengan Tuhan. Syukur-syukur kita juga punya pemahaman, pengetahuan iman yang memadai. Segala sesuatu yang kita kerjakan kalau kita pahami dengan baik dan dengan gembira hati, akan bisa kita kerjakan dengan lebih baik dan sukacita!


Tulisan ini dipublikasikan di Liturgi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *