Para Petugas Liturgi


Faktor Penentu 2 dalam mengikuti Perayaan Ekaristi yang baik adalah Para Petugas Liturgi. Faktor Penentu 2 yaitu Para petugas Liturgi. Mungkin diantara kita saat ini sudah ada yang terlibat sebagai petugas liturgi tetapi baik juga kita kembali mengingat dan menyadari bahwa tugas yang kita lakukan karena kerinduan kita akan Allah sendiri. Atau bagi kita yang belum terlibat dalam tugas-tugas pelayanan sebagai pertugas perayaan Ekaristi setelah mendengar dan membahasnya pada kesempatan hari ini tergerak hatinya untuk mau terlibat sebagai pertugas liturgi sesuai kemampuan kita masing-masing.

Lukas 11: 29 – 32

Luk 11:29Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
Luk 11:30Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.
Luk 11:31Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!
Luk 11:32Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus dan Gereja sebagai “sakramen kesatuan” yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur dibawah para uskup. Oleh karena itu, perayaan Ekaristi berkaitan erat dengan seluruh Tubuh Gereja. Setiap orang yang turut merayakan Ekaristi mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif, masing-masing menurut cara yang sesuai dengan kedudukan dan tugasnya. Dengan cara ini, umat Kristen, “bangsa terpilih”, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri”, mengungkapkan keterpaduan dan tatanan hirarkisnya. Jadi semua orang entah pelayan tertahbis, entah umat beriman lainnya, hendaknya melakukan tugas menjadi bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang (PUMR/Pedoman Umum Misale Romawi 91).

Gereja adalah kita. Kaum tertahbis dan awam. Sejak Konsili Vatiakn II kaum awam banyak terlibat dalam membangun Gereja. Berkat sakramen baptis, awam diutus mengamalkam tiga tugas Kristus, sebagai imam, nabi dan raja.

Awam dapat juga mengambil bagian dalam tugas-tugas pelayan liturgi. Peran serta awam dalam perayaan liturgi hendaknya bukan hanya karena kewajiban saja tetapi karena rasa tanggung jawab sebagai umat beriman yang telah menerima sakramen baptis tersebut. Adanya kerinduan berjumpa dengan Tuhan dan sesama.

  • Tugas-tugas pelayan tertahbis (PUMR 92-94):
  • Perayaan Ekaristi diselenggarkan di bawah pimpinan Uskup. Uskup dapat memimpin sendiri atau mewakilkannya kepada para pembantunya yakni imam-imam
  • Imam, berkat tahbisannya berkuasa untuk mempersembahkan kurban selaku pribadi Kristus (In persona Christi). Imam memimpin dalam doa, mewartakan kabar keselamatan, dan bersama umat mempersembahkan kurban kepada Allah dengan pengantaraan Kristus dalam Roh Kudus. Seluruh cara dan sikapnya harus menunjukkan kepada umat bahwa Kristus benar-benar hadir di tengah mereka.
  • Diakon. Karena tahbisan kudus yang diterimanya, ia menduduki urutan pertama sesudah imam.Dalam misa, tugas khusus diakon ialah membantu imam, membacakan Injil, kadang-kadang menyampaikan homili, membawakan ujud-ujud doa umat, menyiapkan altar dan bahan persembahan, dan melayani komuni untuk umat.
  • Tugas-tugas umat Allah/awam (PUMR 95-107):
  • Pelayanan Akolit dan Lektor yang dilantik
  • Akolit dilantik untuk melayani altar dan membantu imam serta daikon. Tugasnya yang utama ialah menyiapkan altar dan bejana-bejana kudus. Jika diperlukan ia boleh membagikan komuni kepada umat sebagai pelayan tak lazim.
  • Lektor dilantik untuk mewartakan becaan-bacaan dari Alkitab kecuali Injil. Dapat juga membawakan ujud-ujud doa umat dan kalau tidak ada pemazmur dapat juga mmebawakan mazmur tanggapan.
  • Pemazmur, bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab di antara bacaan-bacaan. Supaya dan menunaikan tugas dengan baik ia harus menguasai cara melagukan mazmur dan harus mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas.
  • Paduan suara atau kor, melaksanakan tugas liturgis tersendiri. Dengan memperhatikan nyanyian, paduasn suara harus melaksanakan tugasnya secara tepat untuk menopang partisipasi aktif umat. Juga berlaku untuk pelayan musik lainnya.
  • Baik jika ada dirigen atau seorang solis untuk memimpin dan menopang nyanyian umat.
  • Koster. Dengan baik dan cermat mengatur buku-buku lirturgi, busana liturgis dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Ekaristi.
  • Komentator, jika diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat pada umat, agar lebih siap dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Komentator berdiri di depan umat di tempat yang kelihatan tetapi tidak di mimbar.
  • Petugas kolekte, bertugas mengumpulkan kolekte dalam gereja
  • Penyambut jemaat, menyambut umat di pintu gereja dan mengantarkan/menunjukkan tempat duduk umat
  • Caeremoniarius (pemandu ibadat). Jika diperlukan dapat ditunjuk seorang pemandu ibadat untuk mempersiapkan perayaan liturgi dengan baik, membagikan tugas kepada masing-masing pelayan, mengatur pelaksanan perayaan, sehingga berlangsung dengan indah, rapi dan hikmat. Terutama untuk gereja-gereja katedral atau gereja-gereja yang besar.
  • Tetapi jika ada beberapa orang yang dapat menjalankan pelayan yang sama, maka pelayanan atau tugas itu dapat dibagi di antara mereka, hingga masing-masing melakukan sebagian.

Jika dalam misa umat hanya ada seorang pelayan, ia dapat merangkap beberapa tugas.

Setiap perayaan liturgi harus disiapkan dengan sungguh-sungguh dengan memperhatikan ketentuan buku-buku liturgi. Imam yang mempimpin perayaan mempunyai hak untuk mengatur hal-hal yang memang merupakan wewenangnya. (PUMR 108-111) Setiap umat mengemban tugas masing-masing sesuai kemampuannya. Bagi umat yang diberikan talenta maka hendaknya mempergunakan talenta itu untuk kemuliaan Tuhan, dan menjaga serta mempergunakan talenta itu sebagai rasa tanggungjawab pada Allah, Sang Pemilik Kehidupan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *