Megapa Kita Berdevosi Ekaristi?


Matius 5: 20 – 26

Mat 5:20Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Mat 5:21Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Mat 5:22Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Mat 5:23Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
Mat 5:24tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Mat 5:25Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Mat 5:26Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Mengapa Kita Berdevosi Ekaristi.

Devosi secara sederhana dipahami sebagai olah kesalehan pribadi. Dengan rahmat pembaptisan yang kita terima, mengundang kita dalam hidup untuk mencapai kekudusan, kesalehan iman yang kita hidupi, kita rayakan bersama dalam perayaan liturgi. Bagi kita orang beriman, puncak hidup liturgi kita adalah Ekaristi. Ekaristi sebagai puncak dan sumber kehidupan orang beriman. Puncak, ke sana kita menuju, sumber sakramen yang menghidupi kita dalam hidup.

Pada kenyataanya banyak umat, tidak bisa mengikuti perayaan Ekaristi. Terlebih pada saat pandemi sekarang ini. Tetapi pada situasi normal sebelum pandemi, banyak orang juga tidak bisa merayakan Ekaristi. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor. Tentu faktor yang pertama karena terbatasnya Imam. Dalam Ekaristi sendiri, hidup Yesus di korbankan, cinta-Nya diberikan untuk kita manusia, sebagai tebusan atas dosa-dosa kita.

Dia telah mencintai kita sehabis-habisnya, secara total. Maka sudah selayaknya hidup kita, kita persembahkan kepada-Nya, yaitu dengan berbakti menghormati-Nya. Senantiasa menyatukan hidup kita dengan kehidupan-Nya. Devosi merupakan jalan dan sarana, untuk persembahan hidup kita. Dengan demkian hdup kita senantiasa dijiwai, dirasuki oleh hidup-Nya, yang telah dikorbankan di salib, yang dihadirkan kembali dalam Ekaristi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *