Markus 6:45-52 Renungan


Injil Markus 6:45-52

Mrk 6:45Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
Mrk 6:46Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
Mrk 6:47Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
Mrk 6:48Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
Mrk 6:49Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
Mrk 6:50sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Mrk 6:51Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
Mrk 6:52sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

Bahan Renungan

Yesus telah membuat mukjizat dengan memperbanyak roti yang tidak habis dimakan oleh 5000 orang lebih. Orang-orang disana termasuk para murid-Nya belum juga mengerti maksud apa yang dilakukan oleh Yesus.  Kali ini Yesus mempersilakan para muridNya untuk berangkat mendahuluiNya, sedangkan Dia sendiri menggunakan kesempatan untuk bersatu dengan Bapa dalam doa.

Jesus walks on water ("Yesus berjalan di atas air") karya Ivan Aivazovsky (1888)
Jesus walks on water (“Yesus berjalan di atas air”) karya Ivan Aivazovsky (1888) wikipedia

Dikisahkan bahwa pada malam itu terjadilah angin sakal. Para murid merasa kesulitan untuk mendayung perahunya maka pada jam tiga dini hari Yesus berjalan di atas air dan sengaja melewati mereka. Mereka menunjukkan kedegilan hati karena mereka mengira bahwa Ia adalah hantu. Ia berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Ia naik ke dalam perahu dan angin menjadi redah.

Sering kali kita merasakan ketakutan seperti yang dirasakan oleh para murid Yesus, dan hal itu dialami oleh semua manusia. Rasa takut akan menjadi penghalang seseorang untuk melangkah maju. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” namun pra murid belum mampu melihat dan merasakan kehadiran Yesus. Rasa takut berlebihan akan membuat kita mudah untuk berprasangka buruk dan kesulitan melihat kebaikan yang ada disekitar kita.

Pergumulan hidup adalah cara Tuhan mendewasakan iman kita. Kita bergumul karena hati kita masih degil, kita belum sepenuhnya percaya kepadanya. Ia selalu berkata: “Tenanglah, Aku ini jangan takut” tetapi kita selalu takut, cemas dan gelisa dengan hidup ini. Yesus sungguh-sungguh Allah yang hidup bersama kita.


Tulisan ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *