Makna Corpus Salib Katolik


Gereja Katolik memilih penggambaran corpus Kristus di salib, itu karena penggambaran tersebut lebih jelas menyampaikan inti ajaran Kristiani sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus: “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa- apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1Kor 2:2). Rasul Paulus mengajarkan bahwa pewartaan iman Kristiani adalah iman akan Kristus yang disalibkan, sebab dengan salib suci-Nya inilah Yesus telah menebus dosa umat manusia.

Memang penggambaran salib yang ‘polos’ (tanpa corpus) atau salib dengan corpus, seolah memberikan penekanan makna yang berbeda. Salib yang polos sepertinya lebih menekankan kepada Kristus yang bangkit, sedangkan salib dengan corpus menekankan kepada pengorbanan Kristus sampai kepada wafat-Nya. Sebagai sesama murid Kristus, tentu kita sama-sama mengimani Kristus yang wafat dan bangkit.

Kebanyakan pertanyaan ini berhubungan dengan anggapan bahwa: Pertama, kalau begitu Gereja Katolik percaya kepada Yesus yang wafat, bukan kepada Yesus yang bangkit; kedua, karena ada Corpus-nya, maka Gereja Katolik menyembah berhala. Tentu saja kedua anggapan ini keliru. Pertama, pengakuan iman Gereja Katolik telah dinyatakan secara jelas dan eksplisit dalam Syahadat para Rasul, yaitu: Aku percaya … akan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara…., disalibkan, wafat dan dimakamkan…, pada hari ketiga Ia bangkit …, yang naik ke Surga… Maka tidak benar, jika Gereja Katolik hanya percaya kepada Kristus yang wafat. Kedua, walaupun Gereja Katolik menghormati salib Kristus itu, namun yang dihormati bukan patung Yesus di salib tersebut, tetapi Pribadi Yesus yang digambarkan oleh patung salib itu. Ini disebut dulia-relatif. Tentang apakah itu dulia relatif dan dasar Kitab Sucinya, silakan membaca artikel ini, silakan klik. Oleh karena itu, penghormatan kepada Salib Kristus bukanlah berhala, sebab yang dihormati tetaplah Kristus Tuhan yang digambarkan oleh Crucifix (Corpus) itu, dan bukan patung-nya itu sendiri.

Berikut ini adalah alasan penggambaran corpus Kristus di salib lebih mengarahkan kita agar semakin menghayati ajaran iman kita:

  • Corpus Kristus itu mengajarkan kita akan kasih Allah yang tak terbatas. Sebab Kristus sendiri mengatakan, “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (lih. Yoh 15:13). “Kristus, terima kasih, Engkau mau menderita dan wafat di salib untuk menebus dosa-dosaku”, biarlah doa singkat ini menjadi seruan hati kita setiap kali memandang corpus Kristus yang terentang di kayu salib itu.
  • Corpus Kristus itu mengingatkan kita kepada penggenapan nubuat para nabi akan Sang Mesias yang menderita, dalam diri Kristus. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, …. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh… ” (Yes 53:2-5)
  • Corpus Kristus itu mengajarkan kita akan keadilan Allah. Sebab Kristus yang tersalib mengingatkan kita akan kejamnya akibat dosa kita, hingga Allah sendiri harus mengutus Kristus Putera-Nya untuk menanggung sengsara dan wafat sebagai tebusan dosa-dosa kita (lih. Gal 3:13). Kesadaran akan hal ini mendorong kita menjauhi dosa, sebab kita mengetahui bahwa dosa-dosa kitalah yang menyebabkan sengsara-Nya.
  • Corpus Kristus itu mengingatkan dan mendorong kita agar kita-pun mau mengasihi, memberikan diri kita kepada orang lain tanpa pamrih, rela berkorban dan tak mudah putus asa dalam memikul salib kita sehari-hari (lih. Luk 9:23). Sabda Tuhan dalam Injil Yohanes mengajarkan agar kita saling mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yoh 3:16)

Berikut ini adalah doa yang dianjurkan oleh Gereja, saat kita memandang salib Kristus:

“Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu agar menanamkan di dalam hatiku, citarasa yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih, pertobatan yang sungguh dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya. Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam, aku merenungkan kelima luka-luka-Mu, yang terpampang di hadapanku, yang tentangnya Raja Daud, nabi-Mu, telah menubuatkan perkataan ini yang keluar dari mulut-Mu, ya Tuhan Yesus: “Mereka telah menusuk tangan-Ku dan kaki-Ku; mereka telah menghitung semua tulang-Ku….” Amin.

ref. katolisitas.org


Tulisan ini dipublikasikan di Spiritualitas dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *