Lukas 21:5-11 Renungan


Injil Lukas 21:5-11

Luk 21:5Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus:
Luk 21:6“Apa yang kamu lihat di situ?akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”
Luk 21:7Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?”
Luk 21:8Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.
Luk 21:9Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”
Luk 21:10Ia berkata kepada mereka: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,
Luk 21:11dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

Bahan Renungan

Selalu Waspada Agar Tidak Disesatkan

Yesus mengingatkan akan runtuhnya Bait Allah ketika banyak orang berkumpul dan membanggakan bangunan itu. Bait Allah adalah tempat umat beragama berkumpul dan berdoa. Bait Allah merupakan tempat orang untuk berjumpa dengan Allah. Di gedung Bait Allah itu kita mengungkapkan iman kita. Bait Allah sebagai gedung yang megah memang diperlukan. Tetapi jika hanya bangunan fisik yang dipentingkan, Bait Allah itu hanya menjadi tempat perkumpulan biasa, bahkan justru menjadi pasar. Bagi orang Yahudi abad pertama, pemujaan di Bait Suci adalah ritual agama yang penting. Ini secara garis besar mencakup fokus Yudaisme, mempersembahkan korban di Bait Suci, menjadi bahasa bersama dan kehidupan seluruh bangsa.

Tetapi ketika Yesus berkata bahwa saatnya akan tiba, satu batu pun tidak dibiarkan terletak di atas batu lain (lih. Luk 21:6). Yesus menghubungkan keruntuhan Bait Allah itu dengan akhir zaman. Bahwa akan terjadi bencana gempa bumi dasyat, perang dan pemberontakan, penyakit dan kelaparan serta tanda-tanda dasyat dari langit. Bagi orang Yahudi Bait Allah adalah simbol agama mereka. Dan kalau Bait Allah hancur maka malapetaka bagi iman dan bangsa mereka.

Pernyataan Yesus pun mengundang pertanyaan para murid. Bagaimana dan kapan kiamat itu terjadi? (lih. Luk 21:7). Kedua pertanyaan ini bertautan erat dengan kesiapan menghadapi kiamat. Mensikapi pertanyaan para muridNya, Yesus menjawab: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” (lih. Luk 21:8-9).

Selalu waspada agar tidak disesatkan merupakan seruan yang mengajak kita untuk tidak terjebak dalam logika waktu dan tempat. Seruan Yesus untuk selalu waspada adalah seruan yang berkaitan dengan iman. Maka, sebagai orang beriman ia harus memiliki sikap iman yang jelas sebagai orang yang percaya untuk menantikan hari akhir. Sikap itu adalah:Tidak disesatkan oleh mesias palsu (lih. Luk 21:7). Ini berarti keteguhan dan ketegaran iman kepada Tuhan Yesus adalah syarat utama menantikan akhir jaman. Dan keteguhan iman itu mahal harganya karena harus dibayar dengan memanggul salib, termasuk siap berbeda dengan keluarga, sahabat dan saudara dan bahkan dibenci oleh semua orang.

Yesus mengingatkan kelak jika musibah dan bencana baik alam maupun tatanan kehidupan manusia (lih. Luk 21:9-11), seolah-olah akan segera terjadi. Tetapi tidak demikian bagi Tuhan Yesus, sebab akhir zaman adalah misteri bagi manusia dan itu ada dalam kuasa Tuhan. Tuhan masih memberi kesempatan kepada umatNya untuk memberi rasa tenang kepada mereka yang takut melihat malapetaka dan musibah di dunia ini. Hal ini juga berarti bahwa kita tidak dengan mudah menganggap diri sebagai orang yang mengerti kehendak Tuhan. Namun diharapkan agar manusia benar-benar percaya dan bersandar kepada Tuhan. Dan orang yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhan itulah yang disebut beriman teguh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *