C. Bersikap Kritis terhadap Ideologi dan Gaya Hidup yang Berkembang Dewasa Ini


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X BAB II dengan tema bersikap kritis terhadap ideologi dan gaya hidup yang berkembang dewasa ini. Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Terlebih seperti yang dialami oleh banyak kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita. Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan.

Pada pelajaran ini, kita akan mengamati berbagai pengaruh dari suatu ideologi, aliran/paham, dan tren-tren yang berkembang saat ini. Harapannya adalah bahwa kita harus bersikap kritis terhadap:

a. Tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini, antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren itupun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.

b. ideologi, paham-paham, dan aliran yang beranekaragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran dan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran. Sewaktu hidupNya, Yesus bertemu dengan berbagai orang yang menganut macam-macam ideologi, paham dan aliran, misalnya kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Esseni, dan kaum Zelot. Dalam menghadapi berbagai ideologi, paham, dan aliran tersebut, Yesus sudah memiliki sikap kritis. Yesus tetap pada pilihan-Nya (opsi-Nya), yaitu Kerajaan Allah. Yesus juga pernah dihadapkan kepada berbagai tawaran yang menggiurkan, seperti jaminan sosial ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan, tetapi Yesus tetap menolaknya (Lihat Matius 4: 1-11).

Yesus tetap pada mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Pada zaman yang penuh tawaran ideologi, paham-paham, dan macam-macam godaan untuk berbagai jaminan sosial ekonomi dan politik serta kesenangan, kaum muda hendaknya membekali diri dengan sikap kritis, sehingga dapat menentukan pilihan dengan benar.

Tentang Gaya Hidup:

Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan atau di perlihatkan dalam aktivitas, minat, dan pendapatnya yang berkaitan dengan citra dan status sosialnya.

Menurut KBBI, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.

Gaya hidup bisa ditentukan oleh apa saja, mulai dari agama, profesi, zaman, teknologi, hobi, umur, jenis kelamin, idola, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena adanya kesamaan sejumlah manusia dalam menjalani hidupnya pada suatu jalan tertentu.

Bagi kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita.Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan. Kita harus bersikap kritis terhadap tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini. Tren-tren yang sangat pesat berkembang antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren pun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.

Tentang Ideologi

Kita harus bersikap kritis terhadap ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran slogan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran.

Nasionalisme Nasionalisme dapat disebut semacam etno-sentrisme atau pandangan yang berpusat pada bangsa sendiri. Gejala seperti semangat nasionalisme, patriotisme, dsb. terdapat pada semua bangsa untuk menciptakan rasa setia kawan dari suatu kelompok yang senasib. Nasionalisme negatif atau nasionalisme sempit ialah nasionalisme yang mengagung-agungkan bangsa sendiri dan meremehkan/menghina bangsa lain. (Right or wrong my country). Nasionalisme positif adalah nasionalisme yang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sekaligus menghormati kemerdekaan dan kedaulatan bangsa lain!

Marxisme. Sejarah bangsa kita pernah berkenalan dengan marxisme. Marxisme ialah suatu kumpulan ajaran yang menjadi dasar sosialisme dan komunisme. Tujuan utama dari marxisme ialah menghapuskan kapitalisme yang dianggap menyengsarakan dan menjajah kaum proletar, yaitu kaum buruh/rakyat kecil. Marxisme hanya percaya pada materi, tidak percaya pada dunia adikodrati, termasuk tidak percaya kepada Tuhan. Manusia merupakan satu unsur materi, suatu unsur yang sangat terbatas dalam proses perubahan keseluruhan umat manusia dan semesta alam. Maka, manusia dapat digunakan untuk tujuan marxisme itu. Jika manusia itu menjadi penghalang, maka ia dapat dilenyapkan. Yang kiranya positif dari ideologi marxisme ini ialah perjuangan dan opsinya kepada kaum buruh/proletar. Hanya sayangnya, ideologi marxisme ini menghalalkan segala cara.

Komunisme. Komunisme adalah anak dari marxisme. Komunisme mencita-citakan suatu sistem masyarakat di mana sarana-sarana produksi dilakukan berdasarkan asas bahwa setiap anggota masyarakat dapat memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan. Cita-cita komunisme ini praktis diperjuangkan dan dimonopoli oleh partai komunis.

Teokrasi. Teokrasi merupakan sebuah paham yang menghendaki agama menguasai masyarakat politis. Dalam hal ini, pemerintahan dianggap melakukan kehendak ilahi seperti diwahyukan menurut kepercayaan agama tertentu. Negara adalah negara agama. Segala bentuk teokrasi bersifat statis-konservatif, karena hukum agama dipandang tetap.

Neo-Liberalisme. Liberalisme adalah suatu paham dan gerakan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan apapun. Namun, kebebasan itu dapat memberi peluang bagi yang kuat untuk menekan yang lemah dan yang kaya memeras yang miskin. Oleh sebab itu, liberalisme di Indonesia sering berkonotasi negatif. Neo-Liberalisme ialah paham yang berkembang dewasa ini dalam hubungannya dengan globalisasi dan pasar bebas, yang akan dikuasai oleh mereka yang kuat secara ekonomis dan politis. Neo-Liberalisme mempunyai konotasi negatif untuk negara-negara yang sedang berkembang. Liberalisme memang memiliki segi positif dan negatif. Positif karena liberalisme memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia. Negatif  karena liberalisme, terutama neo-liberalisme dapat menguasai pasar karena terjadi persaingan yang tidak seimbang. Neo-Liberalisme melahirkan sikap-sikap asosial. Perlu dicatat bahwa kebanyakan ideologi cenderung untuk bersikap fanatik!

Ideologi dapat diartikan juga sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Contoh: banyak remaja di kota besar yang tidak lagi menganggap “kesucian” badan (keperawanan dan keperjakaan), sebagai sesuatu yang penting dipertahankan sampai jenjang perkawinan. Atau, memandang ibadat bersama sebagai buang-buang waktu, dan sebagainya.

Tren Yang Berkembang:

Pada saat ini muncul banyak tren dan isu yang semakin lama semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis. Tren-tren dan isu-isu yang aktual dan relevan untuk ditanggapi secara kritis adalah sebagai berikut.

Budaya Materialistik dan Hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dan sebagainya), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara lain melahirkan sikap konsumerisme. Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan diperoleh melalui konsumsi tinggi itu.

Individualisme. Individualisme umumnya muncul akibat dari perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung. Sikap individualistik ini umumnya muncul pada masyarakat yang hidup di kota, terutama pada masyarakat kelas menengah ke atas. Sikap individualistik ini umumnya jarang terjadi pada kaum petani, nelayan, tukang, dan pedagang tradisional yang pekerjaannya tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga. Gaya hidup modern memisahkan dengan tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak ada sangkut-pautnya satu sama yang lain. Pagi hari ayah secara fisik dan emosional meninggalkan rumah dan keluarganya, selama delapan sampai sebelas jam, menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor. Apabila pulang malam hari jika tidak membawa pekerjaan kantor, barulah tersedia waktunya bagi keluarganya. Dengan demikian, budaya kampung, ketetanggaan dan kekeluargaan dalam arti luas berubah. Orang menjadi individualistik dan privatistik.

Pluralisme. Pluralisme berarti bahwa orang dari berbagai suku, daerah, agama, keyakinan religius, dan politik bercampur-baur di kampung-kampung, di tempat kerja, kendaraan umum, di rumah sakit, dan di mana pun juga; tidak ada masyarakat yang tertutup dan tradisional murni. Dengan kata lain, kontrol sosial terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang. Lingkungan sosial semakin tidak menentukan lagi dalam hal agama, keyakinan, politik, atau kepercayaan. Orang menentukan sendiri keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam arti ini, agama menjadi urusan pribadi seseorang, bukan urusan masyarakat atau pemerintah. Orang tidak harus mengetahui dan tidak mempedulikan kepercayaan tetangganya.

Fundamentalisme. Gerakan fundamentalisme sekarang banyak muncul, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Gerakan fundamentalisme ini umumnya muncul karena adanya suatu tekanan atau ketidakpuasan terhadap kelompok tertentu atau negara tertentu. Gerakan-gerakan fundamentalisme ini umumnya berkedok agama atau kepentingan politik tertentu, seperti yang kita alami di negeri kita saat ini. Selain fundamentalisme agama dan politik, ada juga fundamentalisme yang bersifat non-agama, misalnya sukuisme, nasionalisme, dan sebagainya.

Isu Gender. Pembebasan kaum perempuan akan menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan paradigma sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan. Gerakan kaum perempuan akan menjadi gerakan pembebasan yang kuat dan terasa dampaknya dalam abad ke-21 ini. Gerakan ini akan merombak paradigma sosial lama menuju masyarakat baru yang lebih egalitarian.

Isu Demokrasi, Otonomi, dan Hak Asasi. Alam demokratis semakin dibutuhkan pada masa sekarang, bukan saja sebagai sikap politik, tetapi sebagai sikap budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sosialisme telah runtuh, melainkan karena liberalisme politik seakan-akan menjadi satu-satunya paham yang sekarang berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama karena munculnya kekuatankekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi yang telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif jika ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi, dan hak asasi akan semakin kuat dalam millennium ini.

Isu Lingkungan Hidup. Pada tahun-tahun terakhir ini, isu lingkungan hidup menjadi sangat sentral di planet ini. Lingkungan hidup sangat erat hubungannya dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan bunuh diri. Budaya modern yang individualistik, rasionalistik, dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pasca modern yang lebih sosial dan akrab dengan alam/lingkungan hidup.

Yesus kritis terhadap tawaran-tawaran keduniaan

Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, secara fisik Yesus lemah. Kondisi “lemah” tersebut dimanfaatkan oleh iblis untuk mencobai Yesus. Ia mencobai Yesus dengan  menawarkan hal-hal yang menggiurkan (lihat Lukas 4: 1-13).

Pertama : Roti, rezeki, jaminan sosial ekonomi; Kedua : Kedudukan dan kekuasaan; Ketiga : Kesenangan dan kenikmatan.

Godaan-godaan iblis bertujuan agar Yesus menggagalkan pilihan (opsi) mewartakan Kerajaan Allah, dan supaya Yesus menyibukkan diri dengan jaminan sosial, ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan. Yesus menolaknya, bukan karena hal-hal itu jelek, tetapi karena ada hal yang lebih pokok, yaitu

Kerajaan Allah! Yesus bersikap kritis terhadap ideologi dan aliran pada zaman-Nya. Waktu Yesus hidup di Palestina telah ada berbagai kelompok dan aliran, misalnya:

FARISI (dari kata Ibrani Pharesees = ‘terpisah’). Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang Yahudi saleh yang menerima hukum tertulis dan lisan dan dengan amat teliti menaati berbagai macam kewajiban. Mereka mengecam Yesus karena Ia mengampuni dosa, melanggar peraturan Sabat, dan bergaul dengan pendosa. Sebaliknya, Yesus melawan sikap legalisme lahirilah dan formalisme pembenaran diri mereka. Mereka bekerja sama dengan para Saduki (lawan mereka) untuk membunuh Yesus.

SADUKI: Kelompok Saduki merupakan salah satu kelompok politik Palestina zaman Yesus. Mereka mempunyai pengaruh besar dalam bidang politik. Mereka berhubungan erat dengan para Imam Agung, kaum ningrat, dan golongan konservatif. Dalam hal agama, mereka menolak tradisi lisan, kebangkitan orang mati, dan adanya malaikat. Mereka menentang Yesus dan bersama para Farisi mengusahakan penyaliban Yesus, karena Yesus dianggap mengancam kedudukan politis dan kepentingan mereka.

ESENI (mungkin berasal dari kata Ibrani Kasidim =’orang-orang setia’) Kelompok Eseni ini menganggap diri sebagai orang terpilih dari antara orang-orang saleh. Mereka hidup bermatiraga melaksanakan Hukum Taurat dengan sangat ketat, hidup berkelompok tanpa milik pribadi, dan sebagian dari mereka tidak menikah. Mereka hidup demikian karena yakin bahwa mereka akan bangkit dan hidup pada akhir zaman, waktu di mana hampir semua orang menjadi murtad termasuk pimpinan bangsa dan imam-imam Yahudi.

ZELOT : Kelompok Zelot adalah pejuang-pejuang kemerdekaan Yahudi melawan orang-orang Roma pada awal abad pertama Masehi dan dalam perang yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Yesus ternyata tidak memilih salah satu dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut di atas. Yesus memilih aliran dan gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dalam rangka mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah, Yesus menyapa orang-orang miskin. Walaupun ia berasal dari kelompok kelas menengah, Yesus secara sosial bercampur dengan orang-orang yang paling rendah dan menyamakan diri- Nya dengan mereka. Mereka adalah orang miskin, buta, lumpuh, kusta, kerasukan setan (dikuasai oleh roh najis), pendosa, pelacur, pemungut cukai, rakyat gembel yang buta hukum, lintah darat, dan penjudi. Mereka ini dianggap oleh orang Farisi sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang, tidak berguna atau najis. Mereka harus disingkirkan dari pergaulan masyarakat, karena menyimpang dari hukum dan warisan adat-istiadat.

Bersikap kritis terhadap media dan ideologi tanpa tanggung jawab dan dasar yang kuat akan menyebabkan kita hanya ingin tampil beda saja. Sebagai murid Kristus,sikap kritis harus berdasar dan dapat dipertanggung jawabkan. Kita harus mengkritisi berbagai media, cara pandang, dan ideologi yang mempengaruhi kita agar kita menemukan kehidupan yang autentik (dapat dipercaya) atau yang sejati.

Budaya modern dengan berbagai teknologi, gaya hidup, dan ideologi cenderung tidak lagi memusatkan nilai iman dan hanya sedikit memberi dukungan untuk menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap kritis pada media dan berbagai ideologi menunjukkan bahwa kita mempunyai sikap iman.

Sikap iman merupakan bentuk sikap bagaimana kita menerima Allah dan kasih Allah yang diwahyukan kepada kita dalam pribadi Yesus melalui komitmen-komitmen kita. Sikap kritis terhadap ideologi yang ada, semestinya membuat kita mampu bertahan dan berkembang sebagai seorang Kristen sejati di tengahtengah dunia ini. Konsekuensi dan dasar dari hidup kritis adalah berani menyatukan diri ke dalam perkembangan dunia, dan berani melepas apa yang “nikmat” dan menjadi murid Kristus.

Sikap kritis mempunyai 3 proses dasar: (1) Berusaha memusatkan diri pada perkembangan nilai-nilai atau cita-cita yang kita anggap luhur. (2) Berusaha memalingkan diri dari keegoisan dan mengarahkan segala perhatian kepada kepentingan bersama. (3) Membuka perhatian kepada hidup yang lebih sempurna, yaitu ke arah hidup Allah sendiri.


Tulisan ini dipublikasikan di PAKat SMA/K dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *