B. Kitab Suci Perjanjian Baru


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X Bab III Kitab Suci dan Tradisi Sumber Iman akan Yesus Kristus yang mendalami tentang Kitab Suci Perjanjian Baru.

Melalui pemaparan tentang Kitab Suci Perjanjian Baru, kita diajak untuk mengenal Kitab Perjanjian Baru sebagai buku kesaksian iman sekaligus sebagai firman Tuhan yang tertulis. Peserta didik diajak untuk menggali informasi tentang proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru, mengenal pembagian Kitab Suci Perjanjian Baru, dan menyadari pentingnya mendalami sabda Tuhan dalam Kitab Suci.

Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru-walaupun sama-sama Sabda Allah merupakan  dua Kitab yang berbeda. Perbedaan dapat dilihat dalam perjanjian itu. Buku yang lama (PL) berbicara mengenai perjanjian Tuhan dengan bangsa Israel; sedangkan buku kedua, yang sekarang disebut PB, berbicara mengenai perjanjian Tuhan dengan umat manusia seluruhnya dalam diri Yesus dari Nazaret. Sebetulnya harus dikatakan bahwa apa yang disebut “PB” tidak banyak bicara mengenai “perjanjian.” PB sebetulnya tidak banyak bicara  mengenai  perjanjian,  melainkan  mengenai  Yesus. Namun  adalah kekhususan dari PB, bahwa melihat diri sebagai lanjutan dari PL. Ada suatu kesinambungan. Maka kedua-duanya dilihat sebagai perjanjian Tuhan dengan umat manusia. Cuma dalam fase pertama, atau dalam perjanjian yang lama itu, perjanjian masih dibatasi pada bangsa Israel, sedangkan dalam periode kedua, yang disebut “perjanjian yang baru,” hubungan itu diperluas kepada umat  manusia seluruhnya. Maka isi daripada kata “perjanjian” lebih jelas dalam PL, tetapi lebih mendalam dalam PB. Dalam PB Tuhan berhubungan dengan umat manusia bukan lagi melalui suatu naskah perjanjian, melainkan melalui Putera-Nya sendiri ialah Tuhan kita Yesus Kristus.

Proses penyusunan  Kitab Suci Perjanjian Baru

Ke 27 Kitab dalam Perjanjian Baru, tentu saja tidak langsung jadi, tetapi melalui proses yang kurang  lebih 100 tahun.  Ketika Yesus masih hidup, tidak seorangpun di antara murid-murid-Nya  yang terpikir untuk mencatat tentang  apa yang Ia lakukan atau Ia katakan, atau segala sesuatu tentang kehidupan-Nya. Mereka hanya ingin menjadi murid Yesus yang mengikuti Yesus ke manapun  Ia pergi, mereka tinggal bersama Yesus, mereka belajar mendengarkan ajaran-Nya, dan menyaksikan tindakan Yesus.

Baru sesudah Yesus dibangkitkan, mereka mulai merasakan arti kehadiran Yesus bagi hidup mereka, dan bagi banyak orang yang selama ini mengikuti Yesus percaya kepada-Nya. Sesudah Yesus bangkit, para murid mulai sadar, bahwa Ia yang selama ini diikuti  adalah sosok yang menjadi  kegenapan janji Allah, sebagai Tuhan  dan Juru Selamat. Peristiwa Pentakosta seolah membakar hati mereka untuk mulai berani bercerita kepada banyak orang tentang siapa Yesus sesungguhnya. Berkat Pentakosta, mereka mulai keluar dari persembunyian, dan pergi ke berbagai tempat menceritakan secara lisan tentang ajaran, karya (mukjizat-mukjizat), serta hidup Yesus.

Dari situ terbentuklah  semakin banyak kelompok orang yang percaya kepada Yesus di berbagai kota, tapi sampai ke wilayah di luar Palestina. Karena orang-orang yang percaya kepada Yesus itu tersebar di berbagai kota, dan tidak selamanya para rasul bisa hadir di tengah mereka, maka kadang- kadang komunikasi dilakukan melalui surat. Surat itu bisa berisi wejangan untuk  menyelesaikan masalah  atau  pengajaran  atau  cerita-cerita  tentang kehidupan Yesus.

Baru sesudah para murid meninggal dan umat yang percaya kepada Yesus Kristus semakin banyak, muncullah kebutuhan akan tulisan baik mengenai hidup   Yesus, karya-Nya,  sabda-Nya  maupun   akhir  hidup-Nya.  Berkat bimbingan Roh Kudus, mereka menuliskan kisah tentang Yesus berdasarkan cerita-cerita dari para saksi mata, para pengikut-Nya yang sudah beredar dan berkembang luas di tengah-tengah (bacalah Luk 1:1-4). Tentu tulisan- tulisan tersebut dipengaruhi oleh kemampuan, iman dan maksud serta tujuan penulis serta situasi jemaat yang dituju oleh tulisan itu.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu heran jika tulisan-tulisan dari para penulis tentang  Yesus tersebut terdapat  perbedaan. Sebab, mereka bukan menulis suatu laporan atau sejarah tentang Yesus melainkan melalui tulisan itu mereka mau mewartakan iman mereka (dan iman jemaat) akan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Untuk memahami lebih dalam tentang proses tersusunnya tulisan-tulisan mengenai Yesus Kristus, kita harus mulai dari periode hidup Yesus sampai pembentukan kanon Perjanjian Baru.

1. Antara tahun 7/6 sebelum Masehi (SM) – 30 sesudah Masehi (M) Yesus lahir sekitar tahun 7/6 SM*, dibesarkan di desa Nazaret wilayah Galilea. Ia seorang Yahudi yang saleh yang menaati hukum dengan penuh semangat (bdk. Mt 5:17). Sekitar tahun 27/28 Masehi Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. Kemudian la berkarya sebentar seperti Yohanes Pembaptis, yaitu bersama  dengan  murid-murid-Nya membaptis (bdk. Yoh 3:22-26), tetapi kemudian Ia berkeliling di seluruh Galilea dan Yudea untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ketika Yesus lahir dan tampil di depan umum, Palestina berada di bawah kekuasaan Roma dipimpin oleh Agustus dan di Palestina dipimpin oleh Herodes Agung. Dalam  situasi seperti  itu  ada  suasana  kebencian  di  kalangan  orang Yahudi terhadap penjajah Roma. Sementara itu dalam kehidupan Umat Yahudi sejak lama tumbuh keyakinan bahwa Allah mereka adalah Allah yang setia dan selalu terlibat dalam seluruh kehidupan umat-Nya. Dalam kondisi dijajah oleh bangsa lain mereka menaruh  harapan pada Allah yang akan membebaskan mereka dari derita dan penjajahan. Campur tangan  Allah itu  diyakini akan  dilaksanakan  melalui seorang  tokoh yang disebut Mesias. Mesias digambarkan sebagai utusan Allah, seorang pahlawan  yang akan  membebaskan  Israel dari  penjajah  dan  antek- anteknya.  Maka timbullah  berbagai gerakan  mesianisme. Salah satu gerakan mesianisme bercorak keagamaan adalah seperti yang dirintis Yohanes. Yohanes mewartakan bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya, bilamana bangsa Israel bertobat sebagaimana dituntut  oleh para nabi (Mat 3:1-12). Yohanes juga memberitakan tentang Yesus sebagai utusan Allah yang akan membawa pembebasan bagi mereka. Seruan pertobatan Yohanes ditanggapi bangsa Israel. Mereka memberi diri dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda pertobatan. Yesus pun mengikuti mereka sebagai tanda solidaritas dengan mereka. Setelah dibaptis  oleh Yohanes, Yesus meneruskan  pesan yang sudah diserukan oleh Yohanes. Tetapi gambaran Yohanes tentang diri Yesus sebagai Mesias berbeda dengan yang dipahami Yesus sendiri. Yohanes menggambarkan  bahwa campur  tangan  Allah akan terlaksana secara mengerikan, sedangkan Yesus menyatakan campur tangan Allah sebagai kabar baik sebagaimana dinyatakan oleh para nabi (bdk. Yes 40:11; 52:7-10), yakni hidup, sabda dan karyaNya. Dalam  mewartakan  misinya  sebagai Mesias, Yesus kerap  mengajar dengan  menggunakan   perumpamaan   agar  mudah   ditangkap  oleh orang-orang sederhana. Namun demikian semua disampaikan dengan kewibawaan Ilahi. Itulah sebabnya Yesus selalu bersabda: “Aku berkata kepada-mu… (Mrk 1:27). Yesus juga tampil dengan gaya dan cara hidup yang berbeda dengan  orang  lain. Kerap kali Ia “melanggar” kaidah- kaidah  umum  yang  berlaku,  misalnya: menyembuhkan  orang  pada hari Sabat, bergaul dengan orang-orang berdosa, makan bersama atau mengadakan  perjamuan  dengan  orang-orang  yang  oleh  masyarakat dicap sebagai sampah masyarakat (pendosa), Yesus banyak melakukan mukjizat, mengampuni  dosa atau  membangkitkan  orang  mati  (yang menurut  pandangan  banyak orang hal itu hanya bisa dilakukan oleh Allah). Sebagian orang yang melihat tindakan Yesus semakin mengagumi Dia, dan semakin membuat orang bertanya-tanya siapa sebenarnya Dia ini? (bdk. Mrk 8:27-30 dan Injil lain). Tetapi hal yang sama membuat kebencian Kaum Farisi, khususnya para Imam dan ahli Taurat. Yesus dianggap oleh mereka menghojat Allah. Kendati demikian, Yesus tidak takut dan tetap mewartakan kedatangan Kerajaan Allah dan mengajak setiap orang yang mendengar-Nya bertobat dan percaya kepada Injil. Kebencian  para  pemimpin  agama  dan  kaum  Farisi  tampak  dalam tindakan mereka yang selalu menguji Yesus untuk mencari kesalahan- Nya. Bahkkan diceritakan, bahwa beberapa kali mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus, tetapi Yesus berhasil menyingkir, meloloskan diri (Mat 12:14). Hingga pada akhirnya, mereka menggunakan kesempatan perayaan Paska untuk  menangkap  Yesus. Yesus ditangkap  kemudian diadili oleh pengadilan Agama (Sanhedrin)  di sini Yesus diputuskan untuk dihukum mati. Maka mereka membawa Yesus kepada penguasa Romawi (Ponsius Pilatus) untuk mengizinkan menghukum mati Yesus. Atas desakan orang banyak, akhirnya Ponsius Pilatus menjatuhkan hukuman mati di kayu salib. Kemungkinan besar hal itu terjadi sekitar tanggal 7 April tahun 30 M. Sejak penangkapan  Yesus di  Taman  Getsemani,  murid-murid   yang selama ini selalu bersama-sama dengan Dia sangat ketakutan. Petrus menyangkal, para murid yang lain entah ke mana. Yesus harus menghadapi pengadilan sendirian bahkan berjalan salib tanpa mereka. Sampai  akhirnya  Yesus  wafat  di  Salib. Sesaat  seolah-olah  apapun tentang Yesus lenyap ditelan bumi. Para murid bersembunyi di rumah- rumah, tidak berani tampil di muka umum. Titik balik mulai muncul, ketika tiga hari kemudian mereka mendapati Yesus bangkit. Tidak ada laporan dan kesaksian yang utuh  tentang  kebangkitan Yesus. Mereka hanya menceritakan tentang makam Yesus yang kosong, dengan hanya menyisakan kain kafan, serta malaikat yang memberitakan kabangkitan Yesus. Beberapa waktu kemudian, mengalami beberapa kali penampakan Yesus. Mereka mengalami seolah Yesus yang hadir dalam wujud mulia. Kebangkitan Yesus itu memperkokoh  iman  mereka. Mereka menjadi semakin percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh Mesias, Putera Allah, Tuhan dan Penyelamat. Mereka semakin yakin akan segala sesuatu yang telah diwartakan Perjanjian Lama tentang  Mesias, dan hal itu dilihat sebagai terlaksana  dalam  diri  Yesus. Keyakinan  baru  ini  dirasakan mereka sebagai datang dari Allah sendiri, bukan hasil olah pikir mereka. Lebih-lebih berkat Pentakosta keyakinan dan keberanian itu semakin menguatkan mereka untuk memberi kesaksian kepada semua orang.
2. Antara  Tahun 40 – 120 Masehi: penyusunan dan penulisan Kitab  Suci Perjanjian Baru
Karangan tertua  dari Kitab Suci Perjanjian Baru adalah 1 Tesalonika (ditulis sekitar tahun 40 an) sedangkan yang paling akhir adalah 2 Petrus (tahun 120-an). Yesus pasti tidak menulis apapun yang berkaitan dengan karya dan sabda- sabda-Nya, tidak juga menyuruh para murid-Nya untuk menuliskannya, meskipun Ia bisa membaca dan menulis (lih. Luk 4:17-19 dan Yoh 8:6). Ia hanya berkeliling mengajar dan berbuat baik (menyembuhkan, mengusir setan dan sebagainya) di dalam pengajaran-Nya Yesus kerapkali menggunakan Kitab Suci, tetapi Kitab Suci yang la gunakan adalah Kitab Suci Perjanjian Lama. Namun karena sabda-Nya dan hidup-Nya serta karya-Nya begitu mengesankan  dan  berwibawa maka  banyak orang tertarik dan mengikuti Yesus. Lebih-lebih setelah kebangkitan, di mana Yesus diakui dengan berbagai macam gelar (Kristus, Tuhan, Juru Selamat dan sebagainya), maka para pengikutnya mulai meneruskan apa yang telah dimulai oleh Yesus. Mereka berkeliling tidak hanya di Palestina tetapi sampai di luar Palestina, untuk  mewartakan karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus. Mula-mula para murid mulai mewartakan Yesus secara lisan. Inti pe- wartaan pada mulanya adalah wafat dan kebangkitan-Nya (bdk. Kisah Para Rasul: Khotbah Petrus pada hari Pentakosta, Kis 2). Kemudian pewartaan itu berkembang dengan mewartakan juga hidup, karya dan sabda-Nya dan yang terakhir adalah masa muda-Nya atau masa kanak- kanak-Nya. Semua diwartakan dalam terang kebangkitan, karena kebangkitan Kristus merupakan dasar dari iman kepada Yesus Kristus. Setelah komunitas jemaat berkembang di berbagai kota maka seringkali para Rasul berhubungan dengan komunitas tersebut melalui utusan dan surat-surat (Kis 15:2. 20-23). Itulah sebabnya karangan yang tertua dan tertulis adalah dalam bentuk surat (lihat poin 1). Karena banyak komunitas  yang perlu untuk  terus  dibina, sementara para saksi mata jumlahnya terbatas, maka mulailah juga ditulis beberapa pokok iman yang penting, seperti kisah kebangkitan, sengsara, sabda- sabda Yesus dan karya Yesus dengan maksud untuk membina mereka. Setelah generasi pertama mulai menghilang, maka dibutuhkan tulisan- tulisan tentang Yesus yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka muncullah  karangan-karangan  yang masih berupa  fragmen-fragmen: kisah sengsara, mukjizat–mukjizat, kumpulan sabda, kumpulan perumpamaan,  dsb. Dari situ akhirnya disusunlah injil-injil dan kisah para rasul, sampai akhirnya seperti yang kita miliki sekarang ini. Injil itu disusun berdasar atas tradisi, baik lisan maupun  tertulis dan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulis serta situasi jemaat.  
3. Antara tahun 120 – 400 Masehi: pembentukan kanon (Daftar resmi Kitab Suci Perjanjian Baru).
Pada awal abad kedua sampai akhir abad kedua muncul begitu banyak tulisan  tentang  Yesus, yang membingungkan  umat  beriman.  Dalam situasi seperti itu umat mulai mencari kepastian, manakah Kitab-Kitab yang membina iman sejati. Untuk mengatasi hal tersebut pada akhir abad kedua mulai tahun 200, beberapa tokoh penting mulai menyaring karangan-karangan yang ada. Mereka menyusun daftar karangan yang berwibawa dan layak disebut Kitab Suci. Sementara karangan-karangan yang menyeleweng dari iman sejati ditolak. Salah satu daftar yang terkenal pada saat itu adalah kanon Muratori. Sekitar tahun  254, Origines, memberikan  daftar  kisah  yang umum diterima dan daftar Kitab-Kitab yang harus ditolak. Juga Eusebius pada tahun 303 menyajikan Kitab yang umum diterima dan sejumlah karangan yang mesti ditolak. Pada tahun 300 secara umum yang sudah diterima sebagai Kitab Suci adalah: 4 injil seperti sekarang; 13 surat Paulus, Kisah Para Rasul, 1 Ptr, 1 Yoh dan Wahyu. Pada tahun 400, barulah perbedaan pendapat dalam hal jumlah Kitab Suci hampir hilang seluruhnya. Pada tahun 367 Batrik Aleksandria yang bernama Atanasius menyusun daftar Kitab Suci yang termasuk Perjanjian Baru. Jumlahnya 27 seperti yang kita miliki sekarang. Demikian juga Konsili Hippo (393) dan Karthago (397) menetapkan daftar yang sama.

Kitab-kitab dalam Kitab Suci Perjanjian Baru

Gereja Katolik mengakui bahwa jumlah tulisan atau Kitab dalam Perjanjian Baru ada 27 tulisan atau Kitab. Semua Kitab pada intinya berbicara tentang Yesus Kristus karya-Nya, sabda-Nya, tuntutan-Nya  dan hidup-Nya, dengan cara dan gaya penulisan masing-masing. Meskipun Perjanjian Baru berpusat pada Yesus Kristus, namun di dalamnya juga tercantum beberapa hal mengenai mereka (jemaat perdana) yang percaya kepada Yesus Kristus. Secara umum,  Kitab Suci Perjanjian Baru bentuknya  bersifat kisah (baik perjalanan atau mukjizat) perumpamaan, ajaran, surat dan nubuat.

Keempat Injil  Kitab Suci Perjanjian Baru dibuka dengan empat tulisan yang disebut Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Sebagian besar isinya berupa cerita mengenai Yesus selagi hidup di dunia, karya-Nya, wejangan-wejangan-Nya dan perjuangan-Nya. Tulisan mereka berhenti dengan kisah tentang Yesus yang menampakkan diri sesudah bangkit dari antara orang mati. Mengingat isinya, maka keempat Kitab Injil itu dipandang sebagai Kitab yang paling utama (paling penting).
Kisah Para Rasul  “Kisah Para Rasul” sebenarnya bukan berisi kisah tentang semua rasul, melainkan lebih bercerita tentang apa yang terjadi setelah Yesus wafat dan bangkit. Intinya, berkisah tentang munculnya jemaat kristen pertama dan perkembangannya selama kurang lebih 30 tahun dengan dua tokoh utama yaitu Petrus dan Paulus.
Surat-surat  Tulisan berikutnya adalah 21 tulisan yang gaya penulisannya semacam “surat”. Isinya lebih merupakan wejangan, anjuran dan ajaran yang bermacam- macam tentang hidup sesuai dengan Yesus Kristus. Wejangan, anjuran dan ajaran itu diajarkan oleh Santo Paulus, Yakobus dan tokoh-tokoh lain yang ditujukan kepada jemaat tertentu atau orang tertentu.
Wahyu  Tulisan terakhir adalah Kitab Wahyu Yohanes. Kitab ini berisi serangkaian penglihatan mengenai hal ihwal umat Kristen dan dunia seluruhnya. Kitab ini  terarah  ke masa depan  atau  akhir  zaman,  dan  sekaligus merupakan rangkuman atau penegasan tentang karya keselamatan Allah.
Injil1.    Matius
2.    Markus
3.    Lukas
4.    Yohanes
Kisah Para RasulKisah Para Rasul
Surat – Surat1.    Roma
2.    Korintus I
3.    Korintus II
4.    Galatia
5.    Efesus
6.    Filipi
7.    Kolose
8.    Tesalonika I
9.    Tesalonika II
10.  Timotius I
WahyuWahyu kepada Yohanes

Alasan perlunya  membaca  dan  mendalami  sabda Tuhan yang terdapat dalam Kitab Suci adalah:

Pertama,Iman kita akan tumbuh dan berkembang dengan membaca Kitab Suci. Santo Paulus dalam suratnya kepada Timotius menegaskan, “segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk  menyatakan  kesalahan, untuk  memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16-17).
Kedua,Kita tidak akan mengenal Kristus jika kita tidak membaca Kitab Suci. St. Hironimus  mengatakan,  “Tidak  mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus”. Kutipan inilah yang akhirnya juga dikutip kembali oleh Konsili Vatikan II dalam dokumen Dei Verbum. Kutipan itu hendak menegaskan bahwa sarana utama untuk dapat mengenal Kristus adalah Kitab Suci.
Ketiga,Kitab Suci adalah buku Gereja, buku iman Gereja. Kitab Suci adalah sabda Allah dalam bahasa manusia, Gereja menerimanya sebagai yang suci dan  ilahi karena  di dalamnya mengandung  sabda Allah. Dan sebab itu, Kitab Suci (Alkitab) bersama Tradisi menjadi tolok ukur tertinggi bagaimana kita mengenal iman Gereja. Untuk itu, Gereja menghendaki agar kita semua semakin membaca dan mendalami Kitab Suci, seperti ditegaskan oleh bapa-bapa Konsili: “Konsili mendesak dengan sangat semua orang beriman supaya seringkali membaca Kitab-Kitab Ilahi untuk memperoleh pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (DV art. 25). Pun pula, melalui Kitab Suci ini, kita juga dapat semakin mendekatkan diri dengan saudara-saudara kita dari Gereja-gereja Kristen lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *