Matius 7:1-5 Renungan


Injil Matius 7:1-5

Mat 7:1“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Mat 7:2Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mat 7:3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Mat 7:4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Mat 7:5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Bahan Renungan

Selumbar dapat diartikan sebagai tangkai atau ranting kecil dan kering, serpihan jerami kecil, atau sehelai rambut atau bulu, yang mungkin terbang dan masuk ke mata. Secara kiasan kata itu dipakai Yesus untuk mengartikan kesalahan yang kecil. Lawannya adalah balok, kiasan untuk kesalahan besar yang mencolok.

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu
sumber: gambar mysticpost.com

Yesus mengecam kebiasaan mencela kesalahan orang lain sementara mengabaikan kesalahan diri sendiri. Orang percaya harus pertama-tama tunduk kepada standar kebenaran Allah sebelum berusaha untuk meneliti dan mempengaruhi perilaku orang Kristen lain (ayat Mat 7:3-5). Menghakimi dengan cara yang tidak adil juga mencakup hal mengecam seorang yang berbuat salah tanpa ingin melihat orang itu kembali kepada Allah dan jalan-Nya (Luk 6:36-37). Jangan menghakimi merupakan larangan untuk membuat penilaian, anggapan, memutuskan bahwa seseorang atau sesuatu hal itu salah atau keliru. Kata “menghakimi” diterjemahkan dari kata bahasa Yunani krinete, dari kata krino, yang berarti “menilai, menganggap, menyatakan, menetapkan atau memutuskan sesuatu atau seseorang sebagai pihak yang salah”. Jadi, “menghakimi” dalam ayat ini berhubungan dengan penilaian negatif (bahwa seseorang atau suatu hal itu salah).

Orang dengan mudah melihat kesalahan orang lain, bahkan kesalahan yang sangat kecil seperti selumbar sekalipun. Sebaliknya, orang itu tidak menyadari kesalahan besar atau balok di dalam dirinya. Orang yang menghakimi adalah orang yang sikap dan tindakan hidupnya benar sehingga ia dapat menghakimi dengan adil. Namun, kita justru menemukan kondisi yang sebaliknya. Banyak orang menghakimi sesamanya, padahal ia sendiri melakukan kesalahan yang sama. Penghakiman semacam ini menunjukkan kemunafikan.

Melihat kekurangan atau kelemahan orang lain lebih mudah daripada intropeksi diri sendiri dan menghakimi orang seringkali dilakukan menurut penilaian sendiri.


Tulisan ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *