Disposisi Batin Umat


Faktor Penentu pertama dalam mengikuti Perayaan Ekaristi yang baik adalah Disposisi Batin Umat. Diharapkan dengan pembahasan ini kita bisa lebih mengerti tentang pentingnya persiapan batin kita sehingga kita sungguh-sungguh dapat merasakan kehadiran Yesus dalam perayaan Ekaristi. Persiapan yang kita lakukan bukan  hanya persiapan jasmani seperti, pakaian yang baik dan layak tetapi persiapan batin,  hati yang terbuka untuk mendengarkan firman Tuhan serta melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesaya 55: 10 – 11

Yes 55:10Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
Yes 55:11demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Saat kita menghadiri undangan pesta atau perayaan syukur lainnya, kita mempersiapkan yang terbaik. Pakaian yang terbaik. Sepatu yang terbaik. Perhiasan koleksi dipakai untuk menambah eloknya penampilan. Bagi para ibu/perempuan mungkin mempersiapkan diri dengan mendatangi salon yang terbaik sehingga membuat menampilan menjadi berbeda.  Bahkan beberapa waktu sebelumnya sudah mencatat dan mengingat kapan waktunya harus melakukan persiapkan sampai pada saatnya menghadiri perayaan/pesta itu.

Tetapi bagaimana sikap kita dalam mempersiapan diri untuk menghadiri undangan Tuhan sendiri dalam Perayaan Ekaristi?

Selain pakaian yang baik dan layak, dan semua yang baik, kita membutuhkan persiapan batin yang baik dalam mengikuti Perayaan Ekaristi, Perjamuan Syukur atas undangan Tuhan sendiri.

  • (Perlunya persiapan pribadi). “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya … umat beriman perlu datang menghadiri Liturgi suci dengan sika-sikap batin yang serasi. Hendaknya mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya. Maka dari itu hendaklah para gembala rohani memperhatikan dengan seksama, supaya dalam kegiatan Liturgi jangan hanya dipatuhi hukum-hukumnya untuk merayakannya secara sah dan halal, melainkan supaya umat beriman ikut merayakannya dengan sadar, aktif dan penuh makna” (Konsili Vatikan II).

Fokus utama dalam Ekaristi adalah Yesus Kristus maka kita harus mempunyai kehendak kuat dan motivasi murni untuk menerima Dia dalam Ekaristi, menerima rahmat Allah. Maka untuk menerima rahmat itu dibutuhkan iman dan hati yang terbuka.

Kita harus memiliki dan mengusahakan sikap batin yang benar, baik sebelum, pada saat dan sesudah menerima Ekaristi Kudus. Kita datang ke hadapan Allah dengan hati sebagai hamba, yang siap menerima rahmat-Nya.

Wujud cinta dan kerinduan kita ialah mengikuti perayaan Ekaristi secara keseluruhan dengan hikmat. Dari awal sampai akhir. Dari lagu pembuka sampai lagu pengutusan. Dan berpartisipasi aktif dalam doa, jawaban-jawaban, nyanyian-nyayian dan saat-saat teduh – hening.

  • Beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam persiapan batin sebelum Ekaristi, antara lain:
  • Baca dan renungkan bacaan sesuai hari yang bersangkutan. Dapat merenungkannya bersama-sama sebagai satu keluarga: yaitu suami, istri dan anak-anak. Hal ini baik dilakukan untuk menanamkan kebiasaan membaca dan merenungkan kitab suci pada anak-anak.
  • Pemeriksaan batin, dan jika sudah melakukan dosa yang cukup berat, akukanlah dosa tersebut di hadapan Tuhan, mengaku dosa pada Pastor dalam sakramen Tobat, jika memungkinkan sebelum misa, namun jika tidak, secepatnya pada hari-hari berikutnya.
  • Juga mempersiapkan kurban rohani. Setelah dibaptis, kita dipilih Tuhan menjadi umat pilihan. Meskipun pemimpin misa adalah imam yang telah ditahbiskan, namun itu bukan berarti kita hanya menonton. Sebaliknya, kita juga harus mengambil bagian dalam kurban itu, sebagai anggota Tubuh Kristus yang menghantar persembahan kita bersama-sama dengan kurban Kristus. Kurban persembahan yang dapat kita persiapkan adalah kurban pujian dan syukur atas rahmat Tuhan. Persiapkanlah semua kurban itu di dalam hati kita agar dapat kita bawa ke hadapan-Nya.
  • Datanglah lebih awal, supaya setidaknya ada waktu untuk berdoa misalnya sekitar 10-15 menit sebelum misa dimulai, dan menenangkan hati dan pikiran sebelum mengikuti misa. Usahakan bicara seminimal mungkin. Tidak bicara satu dengan yang lain kalau memang tidak perlu. Kalau dapat ditunda hendaknya dibicarakan setelah misa berakhir.
  • Saat mengikuti Perayaan Ekaristi beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam mempersiapkan batin kita antara lain:
  • Saat Liturgi Sabda, tenangkan hati dan sungguh-sungguh pusatkan perhatian untuk mendengarkan pembacaan Sabda Tuhan. Jika kita telah membaca sebelumnya, dengan harapan dapat meresapkannya pada saat kita mendengarkannya kembali
  • Saat homili, dengarkanlah pesan Tuhan melalui imam. Usahakan untuk menarik pesan khusus atau ayat emas untuk meneguhkan iman kita dan selalu ingat itu untuk dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari.
  • Saat pengucapan Syahadat, ucapkan dengan iman yang teguh. Itulah iman kepercayaan kita sebagai umat Katolik.
  • Doa umat. Kita merupakan bagian anggota Tubuh Kristus, hendaknya kita ikut mendoakan anggota tubuh Kristus yang lain yang membutuhkan doa-doa kita. Kesatuan hati dan rasa solider melalui doa-doa hendaknya ditumbuhkan dalam hati kita.
  • Saat Liturgi Ekaristi. Arahkanlah hati dengan sungguh dan penuh iman terlebih saat Konsekrasi. Saat peristiwa Transubstansiasi, Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kristus sungguh-sungguh hadir, bukan hanya secara simbolis.
  • Transubstansiasi (bahasa Latin) adalah istilah teologis yang menjelaskan perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Doa Syukur Agung. Wujudnya tetap roti dan anggur tetapi hakikatnya sudah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
  • Dalam setiap doa, arahkan hati dengan sungguh-sungguh. Doa Bapa Kami, doa agung yang diajarkan sendiri oleh Yesus pada kita.
  • Setelah menerima Komuni Kudus :
  • Berdoa dan bersyukur. Dia yang mengasihi kita menjadi satu dengan diri kita melalui Komuni Kudus yang kita terima. Berdoa dengan penuh kerinduan. Berbicara layaknya seorang anak berbicara dengan Bapanya.
  • Mengikuti Ekaristi sampai Berkat Pengutusan. Allah sendiri yang memberkati melalui imam-Nya.
  • Manfaatkan waktu setelah misa untuk sejenak berdoa, mengendapkan firman Tuhan dan kehadiran-Nya dalam perayaan Ekaristi yang baru saja kita ikuti. Semua kebaikan dan rahmat itu kita bawa untuk menjalani hari-hari selanjutnya.

Melalui Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya menjadi makanan dan minuman keselamatan kita. Dia yang sudah bersatu dengan kita dan meresap dalam jiwa dan kehidupan kita. Kondisi batin yang kita rasakan selama Ekaristi hendaknya juga dibawa dalam kehiduapn sehari-hari. Hati yang menyembah dan memuji Allah. Ekaristi adalah perayaan syukur. Hati yang bersyukur dan hati yang mau berbagi seturut teladan Yesus yang mau membagi-bagikan TubuhNya. Dalam masa Prapaskah ini kita semua diajak untuk menyadari betapa Tuhan memberikan rahmat yang tak terhingga. Dengan apa kita membalas semua itu? Selain ucapan syukur dan lebih peduli pada sesama


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *