C. Ajaran Sosial Gereja


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas XI BAB V bagian C dengan tema Hubungan Gereja dan Dunia. Melalui topik ini kita diajak untuk memahami Ajaran Sosial Gereja dan mampu menghayati dan mengamalkan dalam hidupnya di tengah masyarakat. Untuk lebih memahami tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) dapat dipelajari ulasan dibawah ini.

Acapkali muncul pertanyaan seputar sikap Gereja menghadapi keadaan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik dalam hidup sehari-hari. Bagaimanakah Gereja menyikapi umat yang hidup melarat, tak cukup makan dan minum, tak bisa bayar uang obat, tak bisa mengecap pendidikan dasar. Apakah Gereja hanya meminta mereka untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya Dia menolong untuk menghadapi masalah-masalah yang sedang dihadapi? Atau, apakah disamping memohon kepada Tuhan dengan tekun, Gereja juga mengambil sejumlah tindakan nyata untuk mengeluarkan mereka dari kungkungan sosial yang menyengsarakan, menyakitkan dan menekan lahir dan batin?

Jika diamati dengan seksama, penampilan Gereja Indonesia ternyata masih lebih berpenampilan ibadat daripada penampilan gerakan sosial. Bahkan dikatakan bahwa wajah Gereja Indonesia adalah berwajah pesta yang tampak dalam perayaan-perayaan kultis-liturgisnya. Seandainya ada penampilan sosial, hal itu tidak merupakan penampilan utama. Penampilan sosial yang ada sampai sekarang merupakan penampilan sosial karitatif, seperti membantu yang miskin, mencarikan pekerjaan bagi pengangguran, dan sebagainya. Demikian juga, mereka yang datang ke gereja adalah orang-orang yang telah menjadi puas bila dipenuhi kebutuhan pribadinya dengan kegiatan ibadat atau sudah cukup senang dengan memberi dana sejumlah uang bagi mereka yang sengsara. Namun, mencari sebab-sebab mengapa ada pengemis, mengapa ada pengangguran belum dianggap sebagai hal yang berhubungan dengan iman. Padahal, kita tahu ajaran sosial Gereja lebih mengundang kita untuk tidak merasa kasihan kepada para korban, tetapi mencari sebab-sebab mengapa terjadi korban dan mencari siapa penyebabnya. Mungkin saja bahwa penyebabnya adalah orang-orang yang mengaku beriman Katolik itu sendiri.

Ajaran sosial Gereja yang dikembangkan sejak abad XIX merupakan bagian integral dari seluruh pandangan hidup Kristiani. Ensiklik Rerum Novarum (1891) mengembangkan ajaran sosial klasik yang berkisar pada masalah-masalah keadilan untuk kaum buruh upahan. Selanjutnya sejak Ensiklik Mater et Magistra (1961), Gaudium et Spes (1965), dan Populorum Progressio (1971) dimunculkan tekanan baru pada segi pastoral dan praksis, dimensi internasional dan masalah hak-hak

asasi manusia. Masalah konkret yang sangat mendesak adalah negara yang sedang berkembang, ledakan penduduk, nilai kerja manusia, diskriminasi rasial, otonomi bidang duniawi dari agama, keahlian profesional. Pada tahap kedua ini, Gereja berjuang untuk membela martabat setiap pribadi manusia dan membangun masyarakat yang manusiawi. Ajaran sosial Gereja sering terkesan sebagai pedoman yang kaku. Terdorong dan diterangi iman dicari jawaban atas masalah-masalah baru.

Ajaran sosial Gereja berkembang, walaupun prinsip-prinsip dasarnya sama. Bila keputusan dan tindakan politik tidak adil, Gereja harus bicara. Ajaran sosial Gereja menolak pandangan yang salah tentang masyarakat, yaitu ajaran kapitalisme liberal dan komunisme total. Ajaran sosial Gereja memusatkan perhatian pada penekanan nilai-nilai dasar kehidupan bersama. Titik tolaknya adalah pengertian manusia sebagai makhluk berpribadi dan sekaligus makhluk sosial. Di satu pihak, manusia membutuhkan masyarakat dan hanya dapat berkembang di dalamnya. Di lain pihak, masyarakat yang sungguh manusiawi mustahil terwujud tanpa individu-individu yang berkepribadian kuat, baik, dan penuh tanggung jawab. Masyarakat sehat dicirikan oleh adanya pengakuan terhadap martabat pribadi manusia, kesejahteraan bersama, solidaritas.

Penjelasan tentang Ajaran Sosial Gereja

Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah ajaran mengenai hak dan kewajiban berbagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan kebaikan bersama, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Ajaran sosial Gereja merupakan tanggapan Gereja terhadap fenomena atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia dalam bentuk himbauan, kritik atau dukungan. Dengan kata lain, ajaran sosial Gereja merupakan bentuk keprihatinan Gereja terhadap dunia dan umat manusia dalam wujud dokumen yang perlu disosialisasikan. Karena masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia beragama bervariasi, dan ini dipengaruhi oleh semangat dan kebutuhan zaman, maka tanggapan Gereja juga bervariasi sesuai dengan isu sosial yang muncul.

Tujuan ASG adalah menghadirkan kepada manusia rencana Allah bagi realitas duniawi dan menerangi serta membimbing manusia dalam membangun dunia seturut rencana Tuhan. Atau ASG dimaksudkan untuk menjadi pedoman, dorongan dan bekal bagi banyak orang Katolik dalam perjuangannya ikut serta menciptakan dunia kerja dan beragam relasi manusia yang terhormat dan masyarakat sejahtera yang bersahabat dan bermartabat. Dengan bekal dan pedoman ajaran sosial, mereka diharapkan menjadi rasul awan yang tangguh dan terus berkembang di tengah kehidupan real. Berikut ini sepintas tentang Ajaran Sosial Gereja dari masa ke masa:

1.Rerum Novarum (Hal-hal baru) Ensiklik Paus Leo XIII  Tahun 1891 Konteks:  Zaman Revolusi industri;  kemiskinan  yang hebat  pada  kaum  pekerja/ buruh;  tiadanya  perlindungan  pekerja oleh otoritas  publik  dan pemilik modal; jurang kaya miskin yang luar biasa. RN (Rerum Novarum) merupakan Ensiklik pertama ajaran sosial Gereja. Menaruh fokus keprihatinan pada kondisi kerja pada waktu itu, dan tentu saja juga nasib para buruhnya. Tampilnya masyarakat terindustrialisasi mengubah pola lama hidup bersama, pertanian. Tetapi, para buruh mendapat perlakuan buruk.
2Quadragesimo Anno (tahun keempat puluh) Ensiklik Paus Pius XI Tahun 1931 Konteks: Zaman Depresi ekonomi sangat hebat terjadi tahun 1929 menggoyang dunia. Di Eropa bermunculan diktator, kebalikannya demokrasi merosot di mana-mana. QA  (Quadragesimo Anno)  memiliki  judul  maksud  “Rekonstruksi Tatanan  Sosial.” Nama Ensiklik ini (40 tahun)  dimaksudkan untuk memperingati Ensiklik Rerum Novarum.Tetapi pada zaman ini memang ada kebutuhan sangat hebat untuk menata kehidupan sosial bangsa manusia.
3Mater Et Magistra (Ibu dan Pengajaran) Ensiklik Yohanes XXIII Tahun  1961 Masalah-masalah sosial yang diprihatini oleh Ensiklik ini khas pada zaman ini. Soal jurang kaya miskin tidak hanya disimak dari sekedar urusan pengusaha dan pekerja, atau pemilik modal dan kaum buruh, melainkan sudah menyentuh masalah internasional.
4Pacem in Terris (Damai di Bumi) Ensiklik Paus Yohanes XIII Tahun 1963– Tema Pokok: Tata dunia, tata negara, relasi antarwarga masyarakat dan negara, struktur negara (bagaimana diatur), hak-hak warganegara; hubungan internasional antarbangsa; seruan agar dihentikannya perlombaan senjata; soal “Cold War” (perang dingin) oleh produksi senjata nuklir; komitmen Gereja terhadap perdamaian dunia. Penekanan pondasi uraian pada gagasan hukum kodrat.
5.Gaudium Et Spes (Kegembiraan dan Harapan) Dokumen Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II Tahun 1965- Tema Pokok: Penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam tata hidup masyarakat zaman ini; martabat pribadi manusia; ateisme sistematis dan ateisme praktis; aktivitas hidup manusia; hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia; beberapa masalah mendesak, seperti perkawinan, keluarga; cinta kasih suami isteri; kesuburan perkawinan; kebudayaan dan iman; pendidikan kristiani; kehidupan sosial ekonomi dan perkembangan terakhirnya; harta benda diperuntukkan bagi semua orang; perdamaian dan persekutuan bangsa-bangsa; pencegahan perang; kerjasama internasional.
6.Populorum Progressio (Kemajuan Bangsa-Bangsa) Ensiklik Paus Paulus VI Tahun 1967- Tema Pokok: Perkembangan bangsa manusia zaman ini; kesulitan-kesulitan yang dihadapi; kerjasama antarbangsa-bangsa; dukungan organisasi internasional, seperti badan-badan dunia yang mengurus bantuan keuangan dan pangan; kemajuan diperlukan bagi perdamaian.
7.Octogesima Adveniens (tahun kedelapan puluh) Surat Apostolik Paus Paulus VI Tahun 1971- Tema Pokok: Soal kepastian dan ketidakpastian fenomen kemajuan bangsa manusia zaman ini berkaitan dengan keadilan; urbanisasi dan konsekuensi-konsekuensinya; soal diskriminasi; hak-hak manusiawi; kehidupan politik, ideologi; menyimak sekali lagi daya tarik sosialisme; soal kapitalisme; panggilan kristiani untuk bertindak memberi kesaksian hidup dan partisipasi aktif dalam hidup politik.
8.Convenientes Ex Universo(Berhimpun dari Seluruh Dunia) atau lebih dikenal: Justicia In Mundo (Justice In The World) Sinode para Uskup sedunia Tahun 1971- Tema Pokok: Misi Gereja dan keadilan merupakan dua elemen yang tidak bisa dipisahkan; soal-soal yang berhubungan dengan keadilan dan perdamaian: hak asasi manusia; keadilan dalam Gereja; keadilan dan liturgi; kehadiran Gereja di tengah kaum miskin. Terminologi kunci yang dibicarakan adalah “oppression” dan “liberation”.
9.Evangelii Nuntiandi (Evangelisasi di dunia modern) Anjuran Apostolik Paus Paulus VI Tahun 1975- Tema Pokok: EN (Evangelii Nuntiandi) mengajukan tema-tema problem kultural sekularisme ateistis, indiference, konsumerisme, diskriminasi, pengedepanan kenikmatan dalam gaya hidup, nafsu untuk mendominasi.
10.Redemptor Hominis (Sang Penebus Manusia) Ensiklik Yohanes Paulus II (Ensikliknya yang pertama) Tahun 1979- Tema Pokok: Misteri penebusan manusia di zaman modern; kemajuan dan akibat-akibatnya; misi Gereja untuk menjawab persoalan zaman ini.
11.Laborem Excercens (Kerja Manusia) Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Tahun 1979- Tema Pokok: Sebagian besar isinya ialah tentang keadilan kerja, yang sudah dikatakan dalam Rerum Novarum; memang Ensiklik ini dimaksudkan untuk memperingati 90 tahun Rerum Novarum. Kerja dan manusia; semua orang berhak atas kerja, termasuk di dalamnya yang cacat; perlunya jaminan keselamatan / kesehatan dalam kerja; manusia berhak atas pencarian kerja yang lebih baik di mana pun, juga di negeri orang.
12.Sollicitudo Rei Socialis (Keprihatinan Sosial) Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Tahun 1987- Tema Pokok: Ensiklik ini mengajukan makna baru tentang pengertian “the structures of sin”; pemandangan secara teliti sumbangsih Ensiklik yang diperingati, Populorum Progressio; digambarkan pula panorama zaman ini dengan segala kemajuannya; tinjauan teologis masalah-masalah modern;
13.Centesimus Annus (Tahun ke Seratus) Ensiklik Yohanes Paulus II Tahun 1991- Tema Pokok: Skema jalan pikiran Ensiklik ini serupa dengan dokumendokumen sebelumnya: pertama-tama dibicarakan dulu mengenai Rerum Novarum yang diperingati; berikutnya dengan menyimak pola Rerum Novarum, Ensiklik Centesimus Annus membahas “hal-hal baru zaman sekarang”; diajukan pula catatan “tahun 1989” (adalah tahun jatuhnya tembok Berlin); prinsip harta benda dunia diperuntukkan bagi semua orang; negara dan kebudayaan; manusia ialah jalan bagi Gereja; soal lingkungan hidup.
14.The Participation of Catholics in Political life– Dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman Tahun 2002 Tema Pokok: Seputar kehidupan politik dan pentingnya partisipasi umat beriman Katolik untuk peduli dengan soal-soal politik.
15.Caritas in Veritate (Kasih dalam Kebenaran) Paus Benediktus XVI Tahun 2009 Tema Pokok: Kasih dalam kebenaran, menjadi saksi Yesus Kristus yang wafat dan bangkit dalam kehidupan duniawi. Kasih merupakan kekuatan luar biasa yang mendorong orang untuk rendah hati dan berani terlibat memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

Penampilan  Gereja di Indonesia  lebih merupakan  penampilan  ibadat  daripada penampilan gerakan sosial. Seandainya ada penampilan sosial, hal itu tidak merupakan penampilan utama. Penampilan sosial yang ada sampai sekarang merupakan penampilan sosial karitatif, seperti membantu yang miskin, mencarikan pekerjaan bagi pengangguran, dan sebagainya. Demikian juga, mereka yang datang ke gereja adalah orang-orang  yang telah menjadi puas bila dipenuhi  kebutuhan  pribadinya dengan kegiatan ibadat atau sudah cukup senang dengan memberi dana sejumlah uang bagi mereka yang sengsara. Namun, mencari sebab-sebab mengapa ada pengemis, mengapa ada pengangguran belum dianggap sebagai hal yang berhubungan dengan iman. Padahal, kita tahu ajaran sosial Gereja lebih mengundang kita untuk tidak merasa kasihan kepada para korban, tetapi mencari sebab-sebab mengapa terjadi korban dan mencari siapa penyebabnya. Mungkin saja bahwa penyebabnya adalah orang-orang yang mengaku beriman Katolik itu sendiri.

Tujuh tema kunci dari ensiklik-ensiklik tersebut:

1.Kesucian hidup manusia dan martabat pribadi harus dijunjung tinggi melebihi benda-benda dan harus dijaga sejak dikandung ibunya. Ini prinsip dasar ajaran Gereja. Gereja melawan serangan terhadap kehidupan manusia (aborsi, eutanasia, hukuman mati, pembasmian suku bangsa, siksaan, pembunuhan rakyat sipil, rasisme, diskriminasi, dsb. Gereja tidak anti-perang tapi anti perang yang tidak adil. Hukuman mati hanya boleh demi menjaga kehidupan bangsa, itu pun jikalau tidak tersedia jalan lain yang tidak ”membunuh”. Tapi kalau tersedia, negara harus mengusahakannya demi kesucian dan martabat hidup manusia.
2.Panggilan untuk membentuk Keluarga Allah di tengah masyarakat yang melibatkan semua warga. ”Tidak baik manusia hidup sendirian” (Kej 2:18). Manusia menjadi baik dan makin sempurna kalau berdua dan bergabung. Membentuk keluarga lalu membentuk negara lalu membentuk Keluarga Allah. Baik-buruknya lembaga keluarga-masyarakat-negara dinilai dari sumbangannya kepada kehidupan dan martabat pribadi manusia. Gereja menolak 2 ekstrem: ekstrem individualistis (pasar bebas, laissez-faire) dan ekstrem sosial (kolektivisme & komunisme). Hak tiap orang untuk ambil-bagian dalam hidup masyarakat, harus dijunjung tinggi. Gereja mendorong prinsip subsidiaritas (= hal yang bisa ditangani oleh warga negara tidak boleh ditangani oleh negara. Negara hanya wajib membantu saja).
3.Hak azasi manusia selalu berdasar pada dan demi martabat pribadi manusia. Batas hak azasi manusia memang kewajiban azasi manusia (tapi maksudnya bukan kewajiban kemasyarakatan, tapi kewajiban menunaikan martabat manusia yang mencakup kewajiban sosial). Hak azasi paling dasar = hak hidup, hak mencapai kepenuhan hidup dan hak atas keperluan hidup. Hidup yg dimaksud adalah hidup bermartabat (Kekasih Allah, Citra Allah, Keluiarga Allah). Hak keperluan hidup antara lain: pekerjaan, jaminan kesehatan, pendidikan, rumah, berkeluarga, kebebasan beragama dan hak milik. Kebebasan beragama= bebas berhubungan dengan Tuhan yang membebaskan bukan yang memperbudak, kebebasan hati nurani, kebebasan mengungkapkan isi hati dan keagamaan). Hak milik (harta) itu bukan tanpa batas. Batasnya kebersamaan. Tak boleh disalah gunakan. Tak boleh ditimbun secara tak adil (negara berhak mendistribusikannya).
4.Preferential option for the poor and vulnerable (selalu mendahulukan orang yang miskin dan tanpa pembela) termasuk anak dalam kandungan, orang cacat, orang jompo, orang dalam sakrat maut, dsb. Ukuran martabat suatu bangsa adalah perlakuannya terhadap orang-orang semacam itu. Menolong orang miskin dari kocek sendiri. Bersikap hormat kepada mereka. Mendoakan mereka. Membentuk tim advokasi hukum untuk mereka. Dsb.
5.Nilai luhur pekerjaan. Salah satu keperluan hidup yang jadi hak azasi manusia adalah pekerjaan. Pada awalnya manusia dipanggil Tuhan untuk bersama bekerja mengelola bumi dan mengenyam hasilnya bersama. Inilah dua realitas dasar dunia. Kalau dua hal tsb. terjamin, maka damai sejahtera. Pekerjaan adalah kunci penyelesaian masalah sosial. Manusia yang tidak bekerja itu bukan manusia. Karena bekerja, manusia jadi manusia. Pekerjaan adalah dasar kemerdekaan. Tanpa punya pekerjaan pribadi, manusia jadi budak majikan. Kerja-sama bukan hanya bekerja bersama, tapi tanggungjawab bersama. Aku bekerja untuk kamu dan kamu untuk aku. Sumbangan majikan kepada masyarakat berupa jasa atau produk dan pekerjaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Hak buruh, selain hak atas pekerjaan yang aman dan produktif, juga decent-fair-living wage (upah pantas, adil dan menghidupi keluarga), dan hak membentuk serikat buruh untuk melindungi kepentingan buruh. Kewajiban buruh adalah bekerja sepenuh hati dengan setia, a fair day’s work for a fair day’s pay (memenuhi jam kerja sesuai upah pantas per hari). Sikap buruh menghormati majikan dan sesama buruh, nonviolence (anti kekerasan), ”menerima” keadaan (voluntary poverty), antidiskriminasi, taqwa (doa), dan kekeluargaan.
6.Solidaritas (setia-kawan, solid = kokoh). Ini keutamaan kristiani. Asalnya dari kasih Allah Tritunggal (Bapa Putera Roh Kudus saling mengasihi). Dia mempertaruhkan Diri, menyatu menjadi manusia agar manusia menjadi ”Allah”, dengan menanam kasih-Nya dan semangat Keluarga Allah dalam hati tiap orang, sehingga tiap orang punya semangat menyangkal diri dan semangat altruistis (hidup untuk orang lain). Tujuan akhirnya = Keluarga Allah di tengah masyarakat dan di sorga. Sikap yang menonjol adalah penjaga sesama (anti semangat Kain), penolong orang sengsara, menjadi tempat singgah bagi orang asing (juga immigran), pendidikan anakanaknya, mencukupi kebutuhannya, dsb. Sikap mengampuni dan mau berdamai dengan musuh. Secara internasional, gereja minta pengurangan hutang negara miskin. Di masyarakat, umat Allah memelopori perubahan struktur masyarakat.
7.Memelihara ciptaan Allah. Keadilan kristiani berlaku, baik di antara manusia maupun terhadap mahluk lain. Manusia harus tampil sebagai pemelihara setia alam ciptaan, bukan pengeruk alam. Alam adalah jaminan sosial sekarang dan masa depan anak-cucu. Korban pertama paling parah dari pengerukan alam adalah orang miskin. Mereka jadi alat keruk murah. Hanya di alam yang telah rusak itu saja mereka boleh tinggal. Umat kristiani harus dididik memelihara lingkungan dan menolong orang miskin.  

Penampilan Gereja di Indonesia lebih merupakan penampilan ibadat daripada penampilan gerakan sosial. Seandainya ada penampilan sosial, hal itu tidak merupakan penampilan utama. Penampilan sosial yang ada sampai sekarang merupakan penampilan sosial karitatif, seperti membantu yang miskin, mencarikan pekerjaan bagi pengangguran, dan sebagainya. Demikian juga, mereka yang datang ke gereja adalah orang-orang yang telah menjadi puas bila dipenuhi kebutuhan pribadinya dengan kegiatan ibadat atau sudah cukup senang dengan memberi dana sejumlah uang bagi mereka yang sengsara. Namun, mencari sebab-sebab mengapa ada pengemis, mengapa ada pengangguran belum dianggap sebagai hal yang berhubungan dengan iman. Padahal, kita tahu ajaran sosial Gereja lebih mengundang kita untuk tidak merasa kasihan kepada para korban, tetapi mencari sebab-sebab mengapa terjadi korban dan mencari siapa penyebabnya. Mungkin saja bahwa penyebabnya adalah orang-orang yang mengaku beriman Katolik itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *