B. Peran Roh Kudus bagi Gereja


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X Bab VII. Roh Kudus dan Allah Tritunggal bagian B. Peran Roh Kudus bagi Gereja. Melalui materi pembelajaran ini, kita diajak untuk menyadari kehadiran dan peranan Roh Kudus dalam hidup siswa dan Gereja.

Sebelum Yesus kembali kepada Bapa, Ia telah menjanjikan kepada para murid akan datangnya Roh Penolong yang akan meneruskan karya-Nya. Roh Penolong itu tidak lain adalah Roh Kudus. Roh Kudus membuat para murid mampu meneruskan pewartaan Yesus. Dia adalah Roh Yesus sendiri yang tinggal bersama mereka. Ia mengajarkan (lihat Yohanes 14: 26), bersaksi (lihat Yohanes 15: 26), memuliakan (lihat Yohanes 16: 14). Ia tidak berdiri di samping Yesus, tetapi meneguhkan wahyu Yesus yang sudah diterima oleh para murid. Kehadiran Roh Kudus berarti kehadiran Yesus yang mulia di dalam Gereja.

Roh Kudus adalah daya kekuatan Allah yang mengangkat dan mengarahkan hidup kaum beriman. Roh Kudus sendiri tidak kelihatan dan juga jarang dibicarakan. Yang dikenal adalah pengaruh-Nya, akibat karya-Nya. Karya Roh Kudus itu lazim disebut “rahmat” atau “kasih karunia”. Rahmat atau kasih karunia Allah itu diberikan kepada manusia secara cuma-cuma. Dengan kasih Allah itu, manusia diajak dan dimampukan untuk mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Karena kasih Allah itu juga, manusia makin menyadari ketidakpantasannya sekaligus keberaniannya untuk membuka diri bagi kebaikan dan kekudusan Allah. Rahmat” berarti bahwa “kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita dan mengakui bahwa Allah adalah kasih” (bandingkan 1 Yohanes 4:16). Kasih Allah itu telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (bandingkan Roma 5: 5). Kasih itu disebut “rahmat”, karena merupakan pemberian diri Allah yang bebas dan berdaulat.

Roh Kudus disebut “rahmat tak tercipta” karena Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri. Roh Kudus diberikan kepada kita dan menjadikan kita sebagai anak Allah, maka Roh itu adalah sumber rahmat dan pantas disebut “rahmat dasar”. Karena karya Roh, rahmat menjadi kenyataan manusiawi, dialami, diwujudkan, dan dihayati manusia. Hasil karya Roh, yang disebut “rahmat”, adalah kenyataan hidup manusia. Sejauhmana manusia dapat mengalami rahmat itu? Rahmat tidak dialami tersendiri, melainkan dalam aneka ragam kegiatan keagamaan yang menunjuk kepada Allah dan Roh-Nya. Roh Kudus tidak hanya diterima dalam sakramen, tetapi juga diterima dalam ajaran dan pewartaan Gereja mengenai Allah dan segala kegiatan Gereja yang lain. Semua itu merupakan tanda yang memungkinkan dan membantu manusia menghayati pertemuan dengan Allah menjadi lebih sadar dan lebih hidup.

Gelar-gelar Roh Kudus

Roh Kudus kita kenal dengan berbagai sebutan atau gelar, Sebelum Yesus terangkat ke Surga, Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus, Ia menamakan-Nya “Parakletos”, secara harfiah: “ad-vocatus”, yang “dipanggil mendampingi seseorang”. “Parakletos” biasanya diterjemahkan dengan “penghibur” atau “pembantu”, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa Yesus adalah pembantu yang pertama. Tuhan sendiri menamakan Roh Kudus “Roh kebenaran” (Yohanes 16:13).

Di samping nama yang paling banyak dipergunakan dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat-surat, terdapat pula nama yang digunakan Santo Paulus seperti: “Roh yang dijanjikan” (Galatia 3:14; Efesus 1:13); “Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Roma 8:15; Galatia 4:6); “Roh Kristus” (Roma 8:11); “Roh Tuhan” (2 Korintus 3:17); “Roh Allah”, dan pada Santo Petrus “Roh kemuliaan” (1 Petrus 4:14).

Lambang-lambang Roh Kudus

Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh” (1 Korintus 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalir, dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi.

Urapan. Salah satu lambang Roh Kudus adalah juga urapan dengan minyak, malahan sampai ia menjadi sinonim dengan-Nya. Dalam inisiasi Kristen, urapan adalah tanda sakramental dalam Sakramen Penguatan, yang karenanya dinamakan “Khrismation” dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi untuk mengerti sepenuhnya bobot nilai dari lambang ini, orang harus kembali ke urapan pertama, yang Roh Kudus kerjakan: Urapan Yesus. “Khristos” (terjemahan dari perkataan Ibrani “Messias”) berarti yang “diurapi dengan Roh Allah”. Dalam Perjanjian Lama sudah ada orang yang “diurapi” Tuhan; terutama Daud adalah seorang yang diurapi. Tetapi Yesus secara khusus adalah Dia yang diurapi Allah: kodrat manusiawi yang Putera terima, diurapi sepenuhnya oleh “Roh Kudus”. Oleh Roh Kudus, Yesus menjadi “Kristus”. Perawan Maria mengandung Kristus dengan perantaraan Roh Kudus, yang mengumumkan-Nya melalui malaikat pada kelahiran-Nya sebagai Kristus, dan yang membawa Simeon ke dalam kenisah, supaya ia dapat melihat yang diurapi Tuhan. Ia yang memenuhi Kristus, dan kekuatan-Nya keluar dari Kristus, waktu Ia melakukan penyembuhan dan karya-karya keselamatan.

Pada akhirnya Ia jugalah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam kodrat manusiawi- Nya, yang adalah pemenang atas kematian, setelah sepenuhnya dan seutuhnya menjadi “Kristus”, Yesus memberikan Roh Kudus secara berlimpah ruah, sampai “orang-orang kudus” dalam persatuan-Nya dengan kodrat manusiawi Putera Allah menjadi “manusia sempurna” dan “menampilkan Kristus dalam kepenuhan-Nya” (Efesus 4:13): “Kristus paripurna”, seperti yang dikatakan santo Agustinus.

 Api. Sementara air melambangkan kelahiran dan kesuburan kehidupan yang dianugerahkan dalam Roh Kudus, api melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus. Nabi Elia, yang “tampil bagaikan api dan perkataannya bagaikan obor yang menyala” (Sir 48:1), dengan perantaraan doanya menarik api turun atas korban di gunung Karmel – lambang api Roh Kudus yang mengubah apa yang Ia sentuh. Yohanes Pembaptis, yang mendahului Tuhan “dalam  roh dan kuasa Elia” (Lukas 1:17) mengumumkan Kristus sebagai Dia, yang “akan  membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api” (Lukas 3:16). Mengenai Roh ini Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala” (Lukas 12:49). Dalam “lidah-lidah seperti api” Roh Kudus turun atas para Rasul pada pagi hari Pentakosta dan memenuhi mereka (Kisah Para Rasul 2:3-4). Dalam tradisi rohani, lambang api ini dikenal sebagai salah satu lambang yang paling berkesan mengenai karya Roh Kudus”. “Janganlah padamkan Roh” (1 Tesalonika 5:19).

Awan dan sinar. Kedua lambang ini selalu berkaitan satu sama lain, kalau Roh Kudus menampakkan Diri. Sejak masa teofani Perjanjian Lama, awan – baik yang gelap maupun yang cerah – menyatakan Allah yang hidup dan menyelamatkan, dengan menyelubungi kemuliaan-Nya yang adikodrati. Demikian juga dengan Musa di Gunung Sinai”, dalam kemah wahyu” dan selama perjalanan di padang gurun”; pada Salomo waktu pemberkatan kenisah”. Semua gambaran ini telah dipenuhi dalam Roh Kudus oleh Kristus. Roh turun atas Perawan Maria dan “menaunginya”, supaya ia mengandung dan melahirkan Yesus (Lukas 1:35). Di atas gunung transfigurasi Ia datang dalam awan, “yang menaungi” Yesus, Musa, Elia, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan “satu suara kedengaran dari dalam awan: Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Lukas 9:34-35). “Awan” yang sama itu akhirnya menyembunyikan Yesus pada hari kenaikan-Nya ke Surga dari pandangan para murid (Kis 1:9); pada hari kedatangan-Nya awan itu akan menyatakan Dia sebagai Putera Allah dalam segala kemuliaan-Nya.

Meterai adalah sebuah lambang, yang erat berkaitan dengan pengurapan. Kristus telah disahkan oleh “Bapa dengan meterai-Nya” (Yohanes 6:27) dan di dalam Dia, Bapa juga memeteraikan tanda milik-Nya atas kita. Karena gambaran meterai [bahasa Yunani “sphragis”] menandaskan akibat pengurapan Roh Kudus yang tidak terhapuskan dalam penerimaan Sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Tahbisan, maka ia dipakai dalam beberapa tradisi teologis untuk mengungkapkan “karakter”, yang tidak terhapuskan, tanda yang ditanamkan oleh ketiga Sakramen yang tidak dapat diulangi itu.

Tangan. Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberkati anak-anak kecil, dengan meletakkan  tangan ke atas mereka. Atas nama-Nya paraRasul melakukan yang sama. Melalui peletakan tangan para Rasul, Roh Kudus diberikan. Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakan tangan dalam “unsur-unsur pokok” ajarannya. Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.

Jari. “Dengan jari Allah” Yesus mengusir setan (Lukas 11:20). Sementara perintah Allah ditulis dengan “jari Allah” alas loh-loh batu (Keluaran 31:18), “surat Kristus” yang ditulis oleh para Rasul, “ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia” (2 Korintus 3:3). Madah “Veni, Creator Spiritus” berseru kepada Roh Kudus sebagai “jari tangan kanan Bapa”.

Merpati. Pada akhir air bah (yang adalah lambang Pembaptisan), merpati, yang diterbangkan oleh Nuh dari dalam bahtera, – kembali dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya sebagai tanda bahwa bumi sudah dapat didiami lagi. Waktu Kristus naik dari air Pembaptisan-Nya, Roh Kudus dalam rupa merpati turun atas-Nya dan berhenti di atas-Nya. Roh turun ke dalam hati mereka yang sudah dimurnikan oleh Pembaptisan dan tinggal di dalamnya. Di beberapa Gereja, Ekaristi Suci disimpan dalam satu bejana logam yang berbentuk merpati [columbarium] dan digantung di atas altar. Merpati dalam ikonografi Kristen sejak dahulu adalah lambang Roh Kudus.

Selanjutnya silahkan pelari tentang Peran Roh kudus di pages ke 2


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *