A. Tritunggal Mahakudus


Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X Bab VII. Roh Kudus dan Allah Tritunggal bagian A. Tritunggal Mahakudus. Pada bagian ini kita diajak untuk memahami Tritunggal Mahakudus,dengan melihat dari Kitab Suci maupun ajaran Bapa Gereja agar semakin memiliki pemahaman mendasar demi memperkokoh iman dan kepercayaan kristiani.

Setiap agama mempunyai ajaran-ajaran yang kadang-kadang sulit dicerna oleh penganutnya sendiri – terutama oleh mereka yang wawasan pengetahuan keagamaannya minim, apalagi oleh orang lain yang berbeda agama. Kesulitan memahami konsep ajaran agama idealnya mendorong orang tersebut untuk belajar lebih banyak, sehingga hidup keagamaannya didasari oleh keyakinan yang kokoh. Salah satu ajaran iman kristiani yang dirasa sulit dipahami adalah tentang Tritunggal Mahakudus. Kesulitan tersebut sering menjadi penyebab terjadinya kesalahan penafsiran. Misalnya: banyak orang yang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan iman dan keterbukaan hati serta pola pikiran yang lebih dalam dan luas dalam memahami Allah. Pola pikir yang dibutuhkan adalah bahwa tidak semua hal tentang Allah dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata. Kita harus sampai pada kesadaran bahwa dibalik kesulitan menjelaskan Allah, kenyataannya kehadiran Allah dapat dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun ajaran tentang Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap rahasia/ misteri. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lihat Ibrani 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Selama ini banyak orang berusaha menjelaskan dan memahami Tritunggal dengan analogi. Ada yang membuat analogi Tritunggal dengan matahari. Belum ada seorangpun dapat menjelaskan matahari seutuhnya, karena belum ada yang tinggal di sana. Manusia memahami matahari dari bentuknya yang tampak dari jauh, melihat cahayanya, dan merasakan panasnya. Tapi bentuk, cahaya dan panas, belum sepenuhnya menjelaskan apa itu matahari. Ada juga yang menganalogikan Tritunggal dengan segi tiga. Walaupun ada tiga sudut, baru disebut segi tiga bila ke semua garisnya bersambung. Ketiga sudut itu menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat berdiri sendiri. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis.

Penjelasan Tritunggal dengan menggunakan analogi seperti itu memang membantu, tetapi tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.
Di balik semua kesulitan yang ada, maka sangatlah bijaksana bila kita mencoba menemukan sumber iman kita akan Tritunggal Mahakudus itu dari Kitab Suci dan ajaran Bapa-bapa Gereja.

Dalam Kitab Suci kita tidak menemukan istilah Tritunggal Mahakudus. Istilah tersebut dipakai oleh Gereja untuk mengungkapkan relasi kesatuan antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tetapi, apa yang diwartakan Gereja sesungguhnya berdasar pada Sabda dan pengajaran Yesus sendiri, yang kemudian diteruskan oleh para murid-muridNya. Kesatuan Tritunggal itu, kadang-kadang hanya tersebut kesatuan Bapa dan Putera, Putera dan Roh Kudus; tetapi bisa juga ketiganya disebut bersamaan. Yohanes 10:30 Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 14:9 “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” Yohanes 17: 21 Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa. Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lihat Lukas 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lihat Matius 17:5).

Yohanes 17:5 Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia Yohanes 1:1-3 Kristus adalah sang Sabda/Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan. Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri. Yohanes 15:26 Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebut-Nya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Yohanes 14:6 Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran Matius 28:18-20 Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke Surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…” Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya: 1 Yohanes 5:7 Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu; demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Petrus :1-2; 2 Petrus 1:2); dan Paulus (lih. 1Korintus 1:2-10; 1Korintus 8:6; Efesus 1:3-14).

Isi Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari zaman jemaat awal:

a)Tritunggal adalah Allah yang satu. Pribadi ini tidak membagi-bagi ke- Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat ilahi yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
b)Walaupun sama dalam kodrat ilahinya, namun ketiga Pribadi ini berbeda secara nyata satu sama lain, yaitu berbeda di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan.
c)Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antarpribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakikat mereka adalah satu, yaitu Allah.

Beberapa istilah kunci yang perlu dipahami untuk menjelaskan misteri Tritunggal

Untuk menjelaskan Trinitas atau Tritunggal, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, Pertama: apa yang disebut sebagai substansi/ hakikat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi, Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan jawaban atas pertanyaan : kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi (argument of fittingness). Istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

a) Arti ‘Substansi/ Hakekat’ dan ‘Pribadi’ Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakikat kita diwakili dengan kata ‘manusia’.

Dalam Trinitas, substansi/hakikat yang ada adalah satu, yaitu Allah, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi Allah tersebut mempunyai kesamaan hakikat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Hal yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hubungan timbal balik antara ketiganya.

b) Argument of fittingness. Seorang Filsuf bernama Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai akal budi. Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Intelek dan keinginan memampukan manusia melakukan dua perbuatan, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Berdasarkan prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai” maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah Tuhan sudah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi, yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda. Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada Mulanya Adalah Firman; Firman Itu Bersama-sama dengan Allah dan Firman Itu Adalah Allah” (Yohanes 1:1). Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai makhluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka tindakan ‘mengasihi’ hanya bisa terjadi bila ada pribadi lain yang menerima kasih tersebut. Demikian pula Allah tidak mungkin Allah sendirian, pasti sejak semula hidup dalam “persekutuan dengan yang lain” sehingga keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (SangSabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

c) Argumen dari Definisi Kasih. Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus. Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH.

Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

Ungkapan Iman akan Tritunggal dalam Gereja

Dalam kehidupan kita sebagai orang beriman ada banyak hal yang kita lakukan, yang mengungkapkan iman kita akan Allah Tritunggal Mahakudus. Ungkapan-ungkapan itu antara lain sebagai berikut:

Tanda Salib Membuat Tanda Salib (menandai diri dengan salib) sebelum dan sesudah berdoa merupakan ungkapan yang khas bagi Umat Katolik. Pada saat membuat tanda salib kita mengucapkan kata-kata yang mengungkapkan iman akan Tritungggal: “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin”. Dengan membuat tanda salib kita hendak mengungkapkan iman akan karya penyelamatan Allah yang sejak semula sudah direncanakan dan dilaksanakan Bapa dengan berbagai cara, dan yang secara khusus dinyatakan dalam sengsara dan wafat serta kebangkitan Putera-Nya, Yesus Kristus, dan yang berkat Roh Kudus masih berlangsung hingga sekarang ini. Dengan tanda salib kita meneladan Yesus Kristus yang berkat salib-Nya telah menebus dosa dan mengantar manusia kepada Allah Bapa, serta berharap dapat berpartisipasi meneruskan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Doa Kemuliaan (Gloria) Madah kemuliaan yang biasanya kita nyanyikan merupakan pujian atas kebesaran karya keselamatan Allah. “Kemuliaan kepada Allah di Surga.” Kita tahu bahwa Allah telah turun dari Surga untuk keselamatan kita dan untuk mengangkat kita “ke atas” manusia yang kecil yang mengagumi karya kebesaran Allah. Dalam madah ini, kita juga memuji Putera Allah yang setara dengan Bapa, yang “menghapus dosa dunia”, yang menebus kita. Dalam penutup madah ini, kita sekali lagi mengingat hidup Allah Tritunggal; dan Kristus Penebus kita, yang mewahyukan Bapa bersama dengan Roh Kudus, sekali lagi menjadi pusat cinta kasih dan pujian kita: “Karena hanya Engkaulah kudus, hanya Engkaulah Tuhan, hanya Engkaulah Mahatinggi, Ya Yesus Kristus, bersama dengan Roh Kudus, dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin.
Syahadat/Credo Isi Syahadat/Credo, dengan sangat jelas mengungkapkan iman akan Allah Tritunggal Mahakudus. Syahadat atau credo merupakan ringkasan seluruh sejarah karya penyelamatan Allah, mulai dari penciptaan, penjelmaan, kesengsaraan, wafat, kebangkitan, kenaikan ke Surga, kedatangan Roh Kudus, kedatangan Kristus kembali, misteri Gereja, sakramen-sakramen sampai dengan kehidupan kekal. Oleh karena itu, setiap kali kita mengucapkan Syahadat/Credo kita mengenangkan seluruh sejarah penyelamatan yang dilaksanakan oleh Allah Tritunggal Mahakudus. Sejarah penyelamatan adalah sejarah keselamatan yang berasal dari Bapa, terlaksana oleh Putera dan dilanjutkan oleh Roh Kudus di dalam Gereja sampai pada akhir zaman.
Doksologi Doksologi artinya doa pujian. Doa ini diucapkan pada akhir dari Doa Syukur Agung pada waktu Perayaan Ekaristi. Doa Doksologi berbunyi: “Bersama dan bersatu dengan Kristus dan dengan perantaraanNya, dalam persatuan dengan Roh Kudus, disampaikanlah kepada-Mu Allah Bapa yang Mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang segala masa”. Umat menjawab “Amin”. Doksologi memperlihatkan tiga macam relasi, hubungan kita dengan Kristus: oleh Kristus, dengan Kristus dan dalam Kristus. “Oleh Kristus” menekankan perantaraan Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara antara Allah Bapa dan manusia. “Dengan Kristus” (“bersama Kristus”) berarti bukan Kristus sendiri saja yang mempersembahkan kurban, tetapi seluruh Gereja mempersembahkannya bersama dengan Dia. “Dalam Kristus” sangat dekat dengan istilah “Dalam Roh Kudus”. Dan memang tekanan doksologi menuju ke sini: Kepada-Mu Allah Bapa yang Mahakuasa, dalam persatuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan pujian. Roh Kudus begitu menyatukan kita dengan Kristus sehingga hubungan kita dengan Bapa menjadi sama seperti hubungan Kristus dengan Bapa. Jawaban “Amin” yang kita ucapkan menjadi sungguh-sungguh pengakuan iman kita yang penuh dan lengkap.  
Pembaptisan Pembaptisan yang dilaksanakan dalam Gereja Katolik menggunakan rumusan Trinitas. Pada waktu membaptis, Imam mengucapkan, “N………….. (Nama orang yang dibaptis) Aku membaptis kamu: dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” Melalui pembaptisan ini, orang yang dibaptis dipersatukan dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus.

1 thought on “A. Tritunggal Mahakudus

  1. Shalom bapak, ibu saudara/i di manapun berada. Apakah Sudah ada yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael? Ini adalah kalimat pengakuan iman orang Yahudi yang biasa diucapkan pada setiap ibadah mereka baik itu di rumah ibadat atau sinagoga maupun di rumah. Yesus juga menggunakan Shema untuk menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat mengenai hukum yang utama. Kita dapat baca di Ulangan 6 ayat 4 dan pernah juga dikutip oleh Yesus di dalam Injil Markus 12 : 29. Dengan mengucapkan Shema, orang Yahudi mengakui bahwa YHWH ( Adonai ) Elohim itu esa dan berdaulat dalam kehidupan mereka. Berikut teks Shema Yisrael tersebut dalam huruf Ibrani ( dibaca dari kanan ke kiri seperti huruf Arab ) beserta cara mengucapkannya ( tanpa bermaksud untuk mengabaikan atau menyangkal adanya Bapa, Roh Kudus dan Firman Elohim yaitu Yeshua haMashiakh/ ישוע המשיח, yang lebih dikenal oleh umat Kristiani di Indonesia sebagai Yesus Kristus ) berikut ini

    Teks Ibrani Ulangan 6 ayat 4 : ” שְׁמַ֖ע ( Shema ) יִשְׂרָאֵ֑ל ( Yisrael ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֱלֹהֵ֖ינוּ ( Eloheinu ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֶחָֽד ( ekhad )

    Lalu berdasarkan halakha/ tradisi, diucapkan juga berkat: ” ברוך שם כבוד מלכותו, לעולם ועד ” ( ” barukh Shem kevod malkuto, le’olam va’ed ” ) yang artinya diberkatilah nama yang mulia kerajaanNya untuk selama-lamanya ” ). Apakah ada yang mempunyai pendapat lain?.
    🕎✡️🤚🏻👁️📜🕯️🕍✝️🤴🏻👑🇮🇱🗝️🛡️🗡️🏹⚖️⚓🗺️🌫️☀️🌒⚡🌈🌌🔥💧🌊🌬️❄️🌱🌾🍇🍎🍏🌹🍷🥛🍯🐏🐑🐐🐂🐎🦌🐪🐫🦁🦅🕊️🐟🐍₪

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *