Yohanes 6:41-51 Renungan


Yesus memberi makan 5000 orang
ilustrasi: sesawi.net

 

Pernyataan”Akulah roti hidup” ini diucapkan dalam pembahasan waktu setelah Yesus bermujizat memberi makan 5000 orang. Dalam penyampaian-Nya, Tuhan Yesus memberitahukan orang banyak itu, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu,” (Yohanes 6:27). “Maka kata mereka kepada-Nya: Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?” (Yohanes 6:30). Roti kehidupan menunjukkan bahwa sifat Yesus adalah yang memuaskan. Ini dilihat jelas dalam ucapan, “tidak akan lapar, dan tidak akan haus.” Semua jenis roti lain, seperti manna di padang gurun, tetap tidak memuaskan sepenuhnya. Masih ada hasrat yang belum dipenuhi: kita akan lapar lagi. Sebaliknya, setelah kita merasakan Yesus, cicipan itu akan membatalkan keperluan untuk sesuatu lain yang dapat memuaskan dan memenuhi hasrat kita.

Pengajaran Yesus ini menegaskan, bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal. Dengan menjadikan diri-Nya menjadi roti hidup, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat dan Pemilik kehidupan universal. Sebab siapa pun yang memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya, pasti mendapatkan hidup kekal, bahkan dibangkitkan pada akhir zaman (Yohanes 6:54). Pernyataan ini sekaligus bermakna, bahwa menolak roti hidup berarti binasa. Kesimpulannya, dalam klaim, “AKULAH roti hidup“, Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas bahwa asal usul-Nya adalah surga, dan bahwa Dia sajalah yang memenuhi keseluruhan kerinduan rohani para pendengar-Nya.

Nyatalah makanan rohani kita yang menyelamatkan jiwa dan raga yaitu tubuh Kristus sendiri. Dialah Sang Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:41-51), menyelamatkan umat manusia yang percaya kepada-Nya. Dengan makan tubuh dan minum darah-Nya, kita akan memperoleh kehidupan yang kekal.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *