Yohanes 19:31-37 Renungan


Longinus menusuk di sebelah Yesus dengan Tombak Suci. Fresko karya Fra Angelico (1395–1455), San Marco, Firenze – id.wikipedia.org

Wafat Yesus mau menunjukkan betapa pentingnya kehadiran Allah, Khususnya di antara umat-Nya yang miskin dan tertindas yang selalu membutuhkan perlindungan dari Allah. Kehadiran Allah pada saat Yesus wafat merupakan kenyataan yang mengatasi semua keraguan, khususnya dari sudut pandang iman pasca-kebangkitan. Maka, saat Yesus hendak menghembuskan nafas terakhirnya ia berdoa mewakili seluruh umat beriman yang senantiasa memohon bantuan, pertolongan dan perlindungan dari Allah Bapa.

Penyalipan adalah hukuman mati yang perlahan-lahan dan menyiksa. Para prajurit mematahkan kaki orang-orang yang disalib itu supaya lebih cepat mati. Mereka mendapati Yesus sudah mati dan tidak mematahkan tulang-tulang-Nya. Para prajurit pembantu masih tampak ragu apakah Yesus sungguh sudah mati. Kebrutalan yang mereka perlihatkan dalam mematahkan kaki-kaki para penyamun membuat para perempuan kudus menggigil ketakutan membayangkan kekejian yang akan mereka lampiaskan kepada tubuh Yesus. Tetapi Cassius, wakil kepala pasukan, membuktikan tanpa berdebat bahwa Yesus sungguh telah wafat.

Gaius Cassius Longinus menghunus tombaknya dan bergegas naik ke bukit karang di mana Salib ditinggikan, berhenti tepat di antara salib penyamun lalu, menikamkan tombak dalam-dalam ke lambung kanan Yesus hingga ujung tombak menembusi hati Yesus dan muncul di sisi kiri. Dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air.

Darah dan Air dari Tubuh Tuhan muncrat membasahi wajah dan sekujur tubuh Longinus. Matanya yang juling tersiram Darah Yesus dan seketika itu secara ajaib menjadi sembuh. Longinus lalu meloncat dari kudanya, dengan gemetar ia jatuh berlutut, memukuli dadanya, dan menyatakan rasa penyesalannya. Ketika beberapa saat kemudian gempa bumi mengguncang bukit Golgota; Longinus dengan penuh keyakinan bersaksi: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” (lih. Mat 27:54).

Lambung Yesus yang ditikam dengan tombak dan mengucurkan darah dihayati sebagai darah penghabisan sekaligus darah penghidupan. Darah penghabisan menyatakan bahwa puncak pengorbanannya dituntaskan di kayu salib Golgota. Ia sungguh-sungguh telah wafat. Sedangkan darah penghidupan dimaksudkan sebagai darah yang dicurahkan untuk menghidupkan manusia yang telah mati akibat dosa. Itulah darah penghidupan dan penebusan. Berkat darah Kristus manusia yang telah mati karena dosa kini ditebus dan hidup kembali.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *