Yohanes 11:1-44 Renungan


Kebangkitan Lazarus, ilustrasi Alkitab, 1905
Kebangkitan Lazarus, ilustrasi Alkitab, 1905

Setibanya Yesus di Betania dan mengetahui bahwa Lazarus telah empat hari berada dalam kubur. Jika mayat telah empat hari berada dalam kubur, jelas bahwa mayat itu pasti sudah mulai mem­busuk. Kedatangan Yesus ditanggapi secara berbeda oleh Marta dan Ma­ria. Marta pergi menjemput-Nya, sementara Maria tinggal di rumah. Marta sepertinya menyesali mengapa Yesus tidak segera datang ketika ia menginformasikan perihal sakitnya Lazarus kepada-Nya. Meskipun demikian, ia meyakini bahwa Yesus memiliki akses khusus ke­pada Allah dan mampu melakukan sebuah mukjizat, “Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” Marta mengakui bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah, yang dapat melakukan tanda-tanda ajaib karena Allah menyertai-Nya. Sampai di sini, Marta belum menyadari bahwa Ye­sus sendiri adalah Mesias yang memberikan kehidupan. Ia baru berada pada tahap pemahaman bahwa Yesus adalah seorang perantara Allah dan manusia.

Sebelum memanggil Lazarus dari makamnya, Yesus berdoa: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (lih Yoh. 11: 41-42). Doa ini didengar oleh semua yang ada disana. Setelah berdoa, Yesus berseru dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Lazarus kemudian datang keluar, “kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mu­kanya tertutup dengan kain peluh” Dengan mukjizat ini, mereka juga percaya bahwa Yesus, sebagai Dia yang diutus oleh Allah, mempunyai kuasa penuh atas kematian.

Lazarus yang telah meninggal dan dibangkitkan merupakan cara Yesus untuk menunjukkan idenditas DiriNya. Yesus mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya ke­pada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” Pewahyuan diri Yesus kepada Marta menyatakan bahwa iman dalam Dia membawa kehidupan, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Kematian adalah peristiwa gelap dalam hidup manusia, sebab kematian memutus relasi lahiriah antara dia yang mati dan mereka yang ditinggalkan. Meskipun relasi rohani kiranya masih hidup, bagaimana­pun juga kematian membawa orang pada kepedihan yang mendalam. Terkadang kematian juga menempatkan orang dalam kegelapan hidup.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *