Matius 9:9-13 Renungan


Matius pengarang Injil. Sumber Gambar: wikipedia

Pemanggilan Yesus terhadap Matius menunjukkan sikap Yesus yang melawan kebiasaan umum pada waktu itu. Matius, yang punya catatan buruk dan dianggap berdosa di kalangan masyarakat, justru dipanggil dan dipilih Yesus untuk menjadi murid-Nya. Tentu saja Yesus tidak bermaksud untuk mengangkat kejelekannya, tetapi melihat kemungkinan pertobatan yang tulus dalam diri Matius, Yesus lebih melihat kehendaknya untuk mengikuti Dia, dengan kesungguhannya untuk meninggalkan pekerjaan dan cara hidupnya.

Pertemuan Yesus dengan Matius di kisah ini tidak terjadi pada saat Matius berada di bait Allah atau rumah ibadat Yahudi untuk mendengarkan khotbah Yesus. Matius pasif. Yesus yang mendatangi dia. Dalam masyarakat Yahudi para pemungut cukai termasuk orang-orang yang dipandang sebelah mata. Mereka dianggap sebagai antek pemerintah asing yang menyengsarakan bangsa mereka sendiri. Mereka juga dicap sebagai orang yang tidak jujur dan tamak yang suka menarik pajak lebih tinggi daripada seharusnya. Lebih jauh, pergaulan mereka yang sangat akrab dengan orang-orang asing seringkali menempatkan mereka sebagai pelanggar adat-istiadat Yahudi, terutama hukum halal – haram.

Memanggil Matius untuk mengikuti Dia adalah satu hal. Makan bersama Matius dan teman-temannya adalah hal yang sangat berbeda. Seandainya Yesus hanya menarik Matius dari pekerjaan dan pergaulannya dengan orang-orang asing, Yesus mungkin malah dihargai dan dicintai oleh orang-orang Yahudi. Dia telah mengubahkan seorang yang berdosa. Bagi orang-orang Yahudi, seharusnya Yesus tidak makan bersama orang-orang berdosa itu. Namun, Yesus tetap makan dan berbagi sukacita bersama mereka.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *