Matius 4:12-17, 23-25 Renungan


gambar: penakatolik.com
gambar: penakatolik.com

Menyingkirnya Yesus meninggalkan Nazareth adalah penggenapan rencana Allah sebagaimana firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya. (lih. Mat 4:12-13) Nubuat Yesaya ini berangkat dari kegelisahan umat Israel yang mengalami pembuangan ke Asyur. (lih. Yes 9:1-2) Dan Terang perjanjian baru menjawab kegelisahan tersebut melalui menyingkirnya Yesus ke Zebulon dan Naftali. Bahwa Kerajaan Sorga telah dekat. Bahwa untuk menyambut Kerajaan Sorga adalah melalui sebuah pertobatan.

Pada masa itu dan sebelumnya, wilayah Galilea dihuni oleh orang Samaria, yaitu orang-orang yang berdarah campuran. Orang Yahudi kultural maupun yang saleh menganggap orang Samaria tidak murni, dan karena itu mereka “najis” secara moral, rohani maupun fisik. Pada umumnya orang Yahudi enggan berurusan dengan orang Samaria. Itulah salah satu alasan mengapa Yesus dari Nazaret dan murid-muridnya ditanggapi dengan rasa curiga, ejekan dan bahkan kebencian oleh oleh para pemimpin Yahudi yang saleh di Yerusalem. Mereka sendiri menyebut Yesus “orang Samaria”. Ia menjawab mereka dengan perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *