Matius 19:16-22 Renungan


Yesus dan pria muda yang kaya raya
Yesus dan pria muda yang kaya raya; Heinrich Hofmann, “Christ and the Rich Young Ruler”, 1889; id.wikipedia.org

Pemuda orang kaya itu begitu mencintai hartanya. Ia tidak mampu menjual dan membagi-bagikan kekayaannya kepada orang miskin dan juga tidak mampu memenuhi tawaran Yesus untuk mengikuti-Nya yang berarti mengabdi dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Keselamatan tidak melulu pada kemampuan berbuat baik, melainkan bagaimana seseorang mentaatkan diri pada anugerah Allah yang melimpah padanya.

Diawali dengan rasa kekuatiran “apakah harta ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup?”, dimana rasa khawatir ini berakhir menjadi tujuan hidup. Menimbun harta dunia untuk jaminan hidupnya di masa depan, berkeinginan memastikan tidak adanya kekuatiran anak cucu dan diakhiri dengan ambisi serakah ingin menguasai seluruh harta di dunia ini dengan berbagai cara.

Siapapun yang mencintai hartanya lebih dari pada Tuhan, tidak akan layak pada-Nya. Perikop injil ini mengingatkan kita bahwa: Tuhan tidak menginginkan kita terikat kepada harta duniawi. Ini tidak berarti orang kaya pasti berdosa. Orang yang kaya kadang-kadang terjebak pada sikap lebih mengutamakan kekayaannya daripada Tuhan, padahal seharusnya Tuhan harus ditempatkan di tempat yang utama, lebih dari segala hal yang kita cintai. Orang kaya yang hatinya tidak terikat pada uangnya jauh lebih baik daripada orang miskin yang terikat hartanya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *