Matius 19:16-22 Renungan


Yesus dan pria muda yang kaya raya
Yesus dan pria muda yang kaya raya; Heinrich Hofmann, “Christ and the Rich Young Ruler”, 1889; id.wikipedia.org

Pemuda kaya raya ini merasa bahwa dirinya telah hidup baik. Namun, Ketidak-mauannya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin (lih. Mat 19: 21-22), membuktikan bahwa sebetulnya ia tidak mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Dengan demikian, pertanyaan Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?” (bdk. Mat 19:17) adalah usah-Nya untuk menyadarkan pemuda itu karena merasa dirinya benar sekaligus memberi pelajaran kepada para murid.

Yesus mengundang pemuda kaya raya itu untuk hidup seturut para pra murid, yang meninggalkan segala miliknya dan pergi ke berbagai tempat untuk mewartakan kedatangan kerajaan Allah. Namun, faktanya dia harus menolak. Anak muda itu tidak mampu menerima ajakan Yesus. Pemuda itu baru mampu sampai tahab menaati hukum. Terkadang, kekayaan menjadi bahaya spiritual yang menghalangi relasi manusia dengan Tuhan. Pertemuan dengan seorang kaya yang dengan saksama menaati hukum tapi tidak mau menerima ajaran Injil memberikan kesempatan pada Yesus untuk mengingatkan para murid betapa sulitnya bagi seorang kaya untuk memasuki Kerajaan Surga.

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (lih. Mat 19:22). Ayat ini menunjukkan Respons orang muda itu atas pernyataan Yesus. Barang milik orang muda itu mungkin pemasukan dari usaha-usahanya dan hasil kepentingan-kepentingan lain. Tuhan Yesus memberi suatu penghiburan kepada orang muda itu, yakni ia akan beroleh harta di surga. Namun, pemuda itu tetap menolak panggilan Yesus.

Tidak jelas maksud dan tujuan dari pertanyaan pemuda kaya itu. “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (lih. Mat 19:16). Mungkin pada waktu itu ketika seseorang telah melaksanakan dan mentaati hukun taurat akan menjadapat jaminan kehidupan kekal. Kesalahpahaman inilah yang menjadikan kesombongan seseorang, karena hukum taurat tidak menyelamatkan karena hanya memberi tuntunan menjadi pribadi yang baik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *