Matius 18:1-5 Renungan


Kita jarang menemukan anak kecil yang sombong. Biasanya arogansi atau kesombongan kerap kita temukan pada orang dewasa. Kesombongan datang ketika diri merasa lebih hebat dan lebih pintar dari orang lain. Rasa berlebihan ini biasanya muncul sepaket dengan gerakan mengangkat dagu dan tindakan merendahkan, mengecilkan, bahkan meniadakan keberadaan orang lain.

esungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. sumber gambar

Jika sebagai manusia kita berpikir bahwa pengetahuan, pengalaman, umur dan prestasi dapat menjadi takaran akan kematangan, keberhasilan dan kehebatan, bagi Tuhan tidaklah demikian. Tuhan mengambil anak kecil menjadi tokoh panutan, role model, yang perlu diteladani pribadi, sikap dan perilakunya untuk dapat masuk surga. Dan poin utama yang ditekankan Yesus adalah merendahkan diri, bukannya menyombongkan diri. Jadi tiket masuk surga bukanlah prestasi, kehebatan atau popularitas seseorang. Jaminan masuk surga salah satunya adalah adanya keutamaan: “kerendahan hati”. Sulitnya adalah kita tak bisa mengecilkan diri, menyusutkan usia atau memundurkan waktu agar kita bisa kembali menjadi anak kecil. Lalu, bagaimana kita tetap bisa memiliki kerendahan hati dengan segala muatan yang telah kita miliki saat ini: pengetahuan, pengalaman, pencapaian?

Mari belajar pada Santo Yusuf, sosok yang tidak banyak kata. Yusuf adalah lelaki sederhana, tukang kayu yang tidak menonjol dan kurang terlihat hebat dalam kisah-kisah di Kitab Suci. Namun coba perhatikan baik-baik peran Yusuf. Ia adalah lelaki yang dipilih Allah untuk menjaga sang Penebus dan Bunda-Nya. Dalam menjalankan misi yang diembannya, Yusuf tak berfokus pada kata dan teori. Sebaliknya dengan ketaatan penuh, ia selalu bergerak dengan gesit, tanpa ragu. Ia mengambil Maria sebagai isteri karena perintah Allah. Ia bahkan tak membuka mulut protes soal kehamilan Maria, atau meragukan rencana Allah. Yang ia tahu dan fokuskan hanyalah bagaimana menjalankan perintah Allah untuk menjaga, merawat dan melindungi isteri dan Anak yang dititipkan Allah kepadanya, sampai nanti tiba waktunya bagi Anaknya untuk berkarya.

Yusuf adalah cerminan ketaatan, kerendahan hati, totalitas tanggung jawab dan misionaris yang berhasil! Ia menjalankan dan memenuhi tugas panggilannya secara sempurna, tanpa jatuh dalam kesombongan diri atau tuntutan akan pengakuan sekitar. Ia memiliki kebijaksanaan seorang manusia dewasa dan sekaligus kerendahan hati seorang anak kecil. Ia sosok besar yang tampil kecil. Teladan para pelayan Tuhan yang sejati.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *