Markus 4:35-40 Renungan


id.wikipedia.org: James Tissot – Jésus calmant la tempête (Jesus Stilling the Tempest; “Yesus meredakan angin ribut”) – Brooklyn Museum

Saat itu Yesus tidak langsung menegur murid-murid karena takut dan kurang percaya, tetapi yang Yesus lakukan adalah membentak angin dan danau itu. Barulah setelah itu, Yesus menegur murid-murid karena takut, karena kurang percaya. Para murid yang selalu bersama-sama dengan Yesus, malah tidak percaya dan merasa takut. Padahal Para Murid selalu bersama dengan DIA. Mereka dapat dipastikan selalu melihat bagaimana Yesus melakukan mukjizat. Ketika angin dan danau itu menjadi teduh orang-orang yang ada di situ menjadi takut dan bertanya-tanya siapakah Yesus ini yang bisa membuat angin dan danau menjadi tenang.

 


“…kisah mukjizat disampaikan dengan tujuan agar orang semakin melihat siapa sebenarnya Yesus itu…”


Perikop ini ingin menceritakan pada kita bahwa badai bisa terjadi kapan saja. Tidak ada jaminan bahwa hidup akan baik-baik saja. Bukannya Tuhan tidak membiarkan hidup kita aman tenteram baik-baik saja, tapi kadang ada hal-hal yang diizinkan terjadi pada kita untuk membangun iman kita. Ada juga hal-hal yang mengganggu dalam kehidupan kita, di mana di dalamnya kita perlu pertolongan Tuhan.

Yesus mempunyai kuasa atas kekuatan-kekuatan yang menakutkan. Badai dan laut memang dihubungkan dengan kekuatan yang selalu mengancam kehidupan orang yang takwa Karena itulah dalam doa-doa Perjanjian Lama, bahaya terbesar biasa digambarkan sebagai badai di lautan. Kekuatan yang menakutkan itulah yang di bentak oleh Yesus untuk tenang dan diam.

Peristiwa mukjizat ini bukan untuk membuat orang takjub akan kehebatan Yesus. Kisah mukjizat ini, disampaikan dengan tujuan membuat orang lebih dekat pada diri Yesus dan pengajarannya, dan bukan sebagai kisah mukjizatNya belaka.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *