Markus 4:35-40 Renungan


id.wikipedia.org: James Tissot – Jésus calmant la tempête (Jesus Stilling the Tempest; “Yesus meredakan angin ribut”) – Brooklyn Museum

Markus dan Lukas mencatat bahwa Yesus-lah yang mengajak murid-murid untuk bertolak ke seberang (Lih. Mrk 4:35, lih. Luk 8:22), sedangkan dalam Injil Matius 8:23, dikatakan bahwa ketika Yesus naik ke dalam perahu, murid-murid-Nya pun mengikuti Yesus, jadi Matius tidak mencatat bahwa ada suatu ajakan Yesus kepada murid-murid untuk menyeberang. Ketika Yesus dan murid-murid menyeberang menggunakan perahu, Markus menjelaskan sesuatu yang tidak ditulis oleh Matius dan Lukas yaitu adanya perahu-perahu lainnya yang juga ikut bersama-sama dengan Yesus dan murid-murid-Nya. Jadi bukan hanya satu perahu melainkan ada beberapa perahu.

Pada saat angin ribut itu datang dikatakan bahwa Yesus sedang tidur, dan murid-murid datang membangunkan-Nya dan berkata: “Guru, tak pedulikah engkau kalau kami binasa?” Kalimat bernada kesal ini tidak dijumpai dalam injil Matius “Tuhan, tolonglah, kami binasa.”(lih. Mat 8:25 ), maupun Injil Lukas: “Guru, Guru, kita binasa!” (lih. Luk 8:24). Kedua Injil itu lebih memusatkan pada permintaan tolong dalam ketakutan. Bahkan dalam Injil Matius murid-murid meminta tolong kepada Yesus akan tetapi diakhiri dengan kata binasa. Murid-murid menganggap Yesus tidak peduli dengan badai tersebut. Karena pada saat itu Yesus tertidur.

Ketakutan yang dialami oleh para murid ketika badai menerpa sangat wajar, karena nyawa mereka terancam. Kepanikan melanda semua orang yang ada dalam perahu. Mereka takut tenggelam dan binasa karena air danau sudah memenuhi perahu. Mereka berteriak-teriak panik dan akhirnya merespons secara negatif keadaan itu. Setelah itu Yesus bangun dan menghardik angin dan danau itu dan berkata “diam” “tenanglah.” kedua kata ini memakai bentuk kata perintah. Ini berarti Yesus mempunyai kuasa dan mempunyai otoritas atas alam. Matius dan Lukas hanyalah mengatakan bahwa Yesus membentak badai dan gelombang, tapi Markus menyampaikan hardikannya dalam bentuk kutipan: “Diam! Tenanglah!”. Kata yang kedua itu lebih daripada hanya menyuruh reda.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *