Markus 14:12-16.22-26 Renungan


Perjamuan ini menjadi momentum bagi Yesus untuk menggenapi seluruh karya-Nya di dunia, yaitu menyerahkan diri-Nya secara total untuk manusia. Yesus membuat roti dan anggur perjamuan menjadi tanda pemberian diri seutuhnya kepada mereka yang ikut makan dan minum. “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku” menjadi ungkapan puncak dari kasih Yesus kepada para murid-Nya dan manusia. Seakan Yesus mau menggenapi apa yang pernah disabdakan-Nya, “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang rela menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yesus datang untuk memperkenalkan Allah yang bisa didekati dalam kasih dan pengampunan.

Katekismus Gereja Katolik. 1333: Didalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur Bdk. Mzm 104:13-15., hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri Bdk. MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”. 

Perjamuan Terakhir, karya Dagnan-Bouveret, 1896.
sumber gambar: id.wikipedia.org

Perjamuan makan yang diadakan oleh Yesus bersama dengan para murid-Nya bukanlah perjamuan makan biasa. Pada kesempatan itu, Yesus menjadikan roti dan anggur perjamuan menjadi tanda pemberian diri seutuhnya kepada mereka yang ikut makan dan minum. Yesus memberikan murid-murid-Nya roti dan anggur saat makan Paskah, lalu memerintahkan para pengikutnya: “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” sambil merujuk roti tersebut sebagai “tubuh-Ku” dan anggur tersebut sebagai “darah-Ku”.

Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi merupakan tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan kesatuan antar manusia. Ekaristi tidak hanya menghubungkan masing-masing orang secara pribadi dengan Allah, tetapi juga menjadi ikatan antara umat sendiri. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1407 dan 1409 menyatakan bahwa Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan Gereja, peringatan Paskah Kristus yang dihadirkan di dalam kegiatan liturgi. Karena di dalamnya Yesus Kristus mengikutsertakan Gereja-Nya dan semua anggota-Nya dengan korban pujian dan syukur yang Ia persembahkan satu kali untuk selamanya di salib kepada Bapa-Nya; di mana melalui korban tersebut Yesus mencurahkan anugerah keselamatan kepada umat sebagai anggota Tubuh-Nya, yakni Gereja.

Ekaristi maha kudus merupakan peristiwa menghadirkan kembali peristiwa yang terindah dan terluhur yang diwariskan oleh Yesus Kristus kepada kita semua yang beriman kepada-Nya. Dalam Perjamuan Ekaristi Maha kudus, Yesus Kristus sendiri yang menjadi tuan rumah dan sebagai jamuan makan bersama Ia memberikan Diri-Nya, Tubuh dan Darah-Nya, dalam rupa roti dan anggur. Maka setiap kali kita menerima komuni kudus, yang tidak lain adalah Tubuh Kristus sendiri, kita berarti menerima Yesus Kristus dalam diri kita. Apa yang dimakan dan diminum senantiasa mempengaruhi orang yang memakan dan meminumnya. Menerima Tubuh Kristus diharapkan kemudian hidup dan bertindak sesuai dengan perintah dan sabda Yesus Kristus, dan dengan demikian menjadi sahabat-sahabat Yesus Kristus.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *