Markus 14:12-16.22-26 Renungan


Bahan Renungan

“Yesus makan Paskah dengan murid-murid-Nya”

Perjamuan Malam Terakhir adalah makan malam terakhir Yesus bersama kedua belas rasul sebelum wafat-Nya. Peristiwa tersebut dituliskan di Injil Matius 26:17-29, Injil Markus 14:12-25, Injil Lukas 22:7-38, dan Injil Yohanes 13:1-38 yang juga menulis peristiwa tentang Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.

Perjamuan terakhir
sumber Gambar: id.wikipedia.org 

Dalam perjamuan makan Paskah yang dirayakan oleh orang-orang Yahudi adalah roti tidak beragi dan darah anak domba yang disembelih. Roti tidak beragi pada Perjanjian Lama dilakukan untuk mengenang proses pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Setelah ratusan tahun perbudakan kejam di Mesir, orang Israel sangat gembira dan bersukacita pada saat meninggalkan Mesir, dan saat itu adalah perayaan hari raya Roti Tidak Beragi. Mesir dan rajanya, Firaun, Alkitab mengartikannya sebagai lambang dosa dan Setan. Penyembelihan anak domba yang tak bercacat mengingatkan pada peristiwa tulah ke sepuluh di kitab Keluaran. Dengan darah anak domba yang dibubuhkan di pintu-pintu rumah orang Israel, maka anak-anak sulung laki-laki mereka diampuni dan diselamatkan dari kengerian murka Allah dalam tulah ke sepuluh (Lih. Kel. 12:24-28). Itulah sebabnya darah itu disebut dengan darah perjanjian (Mrk. 14:24). Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) menjadikan perjamuan paskah yang memperingati pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir, diubah artikan menjadi korban diri Yesus di salib yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Apa yang Yesus lakukan bagai pesan yang menyatakan bahwa tubuh dan darah Yesus akan dikorbankan, sebagaimana orang Yahudi mengorbankan domba paskah. Pengorbanan yang akan dilaksanakan di atas salib itu akan membawa pembebasan bagi manusia.

Katekismus Gereja Katolik 1334: Di dalam Perjanjian Lama roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesahan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur. 

Perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama murid-murid-Nya merupakan bagian dari perayaan paskah Yahudi. Paskah Yahudi dirayakan untuk mengingat kembali perbuatan Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan. Yesus memecah-mecahkan roti dan menuangkan anggur lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya. Apa yang Yesus lakukan bagai pesan yang menyatakan bahwa tubuh dan darah Yesus akan dikorbankan, sebagaimana orang Yahudi mengorbankan domba paskah. Yesus datang bukan sebagai Mesias yang akan membangun kembali kerajaan dan mengalahkan penjajah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *