Markus 11:27-33 Renungan


Ilustrasi: teologiareformed.blogspot.com

Yesus tahu maksud dan hati ahli-ahli Taurat dan tua-tua orang Yahudi, maka Ia pun menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Yesus bertanya tentang Yohanes Pembaptis karena Yohanes Pembaptis mengakui Yesus sebagai Anak Allah (lih. Yoh 1:32-34). Jadi, kalau mereka mengakui bahwa Yohanes Pembaptis dari Allah, maka mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, sehingga tentu mempunyai kuasa untuk melakukan apa yang Ia lakukan.

Terksesan Yesus tidak ingin menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi itu. Yesus tahu mereka sebenarnya sudah mengetahui, atas kuasa mana Tuhan Yesus melakukan semua itu, yaitu atas kuasa dari Bapa. Namun mereka pura-pura tidak mengetahui. Kalau pun Yesus menjawab pertanyaan mereka, mereka tidak akan percaya. Tuhan Yesus menguji mereka dengan sebuah pertanyaan lain. Maksudnya ialah untuk mengetahui apakah mereka mampu mengenali kuasa Allah saat mereka melihatnya. Sambil mengingatkan mereka pada pelayanan Yohanes Pembaptis, Ia bertanya kepada mereka apakah kuasa Yohanes berasal ‘dari Surga’ (artinya Allah) atau ‘dari manusia’.

Yesus dengan santainya membalikkan pertanyaan yang bertujuan untuk menjatuhkan-Nya dengan pertanyaan lain kepada mereka: “Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” (Mrk 11:30). Pertanyaan ini membuat mereka menjadi bingung, karena ke dua pilihan jawaban tersebut memberi konsekuensi kepada mereka. Akibatnya mereka pun menjadi mati kutu dan menyerah. Itulah cara Yesus menanggapi penolakan yang dialami-Nya. Kebenaran sejati tidak butuh kesepakatan manusia karena kebenaran itu milik Allah. Untuk itu, kita perlu berhati-hati dalam memakai kecerdasan kita untuk memahami kebenaran Allah dan bukan demi kepentingan diri.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *