Keuangan dan harta benda Gereja


Pedoman pengelolaan Keuangan dan harta benda Gereja dalam Kitab Suci Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa Yesus dan para Rasul-Nya memiliki pundi-pundi untuk memenuhi kebutuhan mereka dan membantu orang miskin (Yoh. 12:6;13:29). Dalam Kisah Para Rasul juga terdapat kisah mengenai jemaat Kristen awal yang memperlakukan harta milik masing-masing sebagai milik bersama, atau mempersembahkan hasil penjualan tanah atau rumah mereka kepada para Rasul (Kis. 2:44-45; 4:34-35). Selain itu, Rasul Paulus pernah membawa sumbangan yang dikumpulkan oleh umat Makedonia dan Akhaya untuk membantu mereka yang miskin di Yerusalem (Kis. 15:25-28). Kisah-kisah ini mengindikasikan bahwa jalannya karya perutusan dan pelayanan baik Yesus dan para Rasul-Nya maupun Gereja perdana ditunjang oleh adanya materi dalam hal ini uang. Maka memiliki dan mengelola uang yang diperuntukkan bagi tugas perutusan adalah sebuah keniscayaan.
Tetapi Kitab Suci terutama Perjanjian Baru tidak hanya berkisah tentang pentingnya materi dalam tugas perutusan. Terdapat juga dalam Injil kisah-kisah kontradiktif. Misalnya, Yesus yang melarang para murid-Nya membawa emas, perak atau tembaga dalam ikat pinggang selama mereka menjalankan tugas perutusan. Bahkan, lebih ekstrim lagi, para Rasul diminta untuk tidak membawa bekal, dua helai baju, kasut atau tongkat (Mat. 10:9-10 par). Yesus bahkan pernah meminta seorang pemuda kaya untuk menjual seluruh harta miliknya, membagikannya kepada kaum miskin dan mengikuti Yesus (Luk. 18:22 par). Yesus juga pernah bersabda bahwa barangsiapa tidak melepaskan diri dari harta miliknya, tidak dapat menjadi murid-Nya (luk. 14:33). Singkatnya, di suatu waktu Yesus berbicara dan menunjukkan dengan tindakan bahwa memiliki materi penting bagi tugas perutusan tetapi di waktu lain Ia menuntut semangat kemiskinan dari pengikut-Nya. Bagaimana memahami kenyataan ini?

Mengenai sikap Yesus dan cara hidup jemaat perdana sehubungan dengan kepemilikan harta benda ini, bisa ditarik tiga aspek fundamental yang bisa dijadikan legitimasi atau justifikasi bagi kepemilikan dan pengelolaan keuangan paroki.

  • Pertama, perlu ada semangat dan mentalitas dasar yang benar, yakni kemiskinan dan pelayanan.
  • Kedua, harus ditetapkan cara-cara yang legitim dan tepat untuk memiliki dan mengelola keuangan paroki.
  • Ketiga, harus dirumuskan tujuan yang benar bagi setiap pemilikan dan pengelolaan keuangan paroki.

Paroki memiliki dan mengelola keuangan atas dasar semangat pelayanan sambil tetap mempertimbangkan model kemiskinan injili. Dalam mengumpulkan dana, mengelola dan menyalurkannya pun harus dengan cara-cara yang baik dan benar. Dan kesemuanya ditujukan demi tercapainya tujuan-tujuan khas dari paroki sebagai tanda dan sarana keselamatan Allah di tengah masyarakat.

Demikianlah ulasan singkat tentang pedoman pengelolaan Keuangan dan harta benda Gereja dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Fungsi Keuangan Paroki, Pengelolaan Keuangan Paroki, Peran Pastor Paroki dan Peran Serta Awam. Paroki sebagai badan hukum dapat memiliki dan mengurus sendiri secara sah di bawah koordinasi penuh pastor paroki. Tentu masih ada tantangan ke depan. Bahkan, tidak jarang menghalangi dan menghentikan kemajuan Gereja lokal dalam tugas menyelamatkan jiwa-jiwa. Tugas berat ke depan adalah mempersiapkan imam-imam yang berkualitas di bidang pengelolaan keuangan dan menyadarkan masyarakat akan partisipasi mereka dalam pelayanan Gereja. Hanya dengan demikian tujuan-tujuan Gereja seperti yang diidealkan dapat dicapai.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.