Keuangan dan harta benda Gereja


Fungsi Keuangan Paroki
Dalam Kitab Hukum Kanonik (Kan. 1254 § 2) tertulis: Adapun tujuan-tujuan yang khas itu terutama ialah: mengatur ibadat Ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal-kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan.
digariskan fungsi keuangan paroki, yakni:

  1. Mengatur ibadah ilahi
  2. Memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain
  3. Melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya-karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan

Tujuan-tujuan khas ini jelas sekali menunjukkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan keuangan dalam paroki semata-mata mempunyai fungsi instrumental dan sosial. Fungsi instrumental berarti bahwa harta benda [termasuk keuangan] tidak pernah menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi melulu sebagai sarana dan alat untuk mengejar tujuan tertentu yaitu mengemban dengan murni perutusan khas yang diberikan Kristus kepada Gereja. Fungsi sosial berarti dalam kepemilikan dan pengelolaan harta benda dan gereja ditujukan untuk menumbuhkembangkan kehidupan dan aktivitas paguyuban umat beriman serta untuk melayani orang miskin.

Tujuan khusus ini dengan jelas menunjukkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan keuangan di paroki memiliki fungsi instrumental dan sosial. Fungsi instrumental berarti bahwa harta [termasuk keuangan] tidak pernah menjadi tujuan itu sendiri, tetapi hanya sebagai sarana dan alat untuk mengejar tujuan tertentu, yaitu melaksanakan murni misi khusus yang diberikan Kristus kepada Gereja. Fungsi sosial berarti bahwa dalam kepemilikan dan pengelolaan harta benda dan gereja dimaksudkan untuk mengembangkan kehidupan dan kegiatan komunitas orang percaya dan untuk melayani orang miskin.

Pengelolaan Keuangan Paroki
Dalam Buku Lima Kitab Hukum Kanonik terutama pada Kan. 1281-1288 telah diatur cara pengelolaan harta benda gerejawi termasuk keuangan paroki. Pastor paroki sebagai administrator keuangan paroki wajib menaati ketentuan tersebut. Misalnya, sebelum memulai tugasnya ia harus berjanji di bawah sumpah di hadapan ordinaris atau orang yang dikuasakan bahwa ia akan mengelola keuangan paroki dengan baik dan setia (Kan. 1283, 1º). Setelah itu yang harus dilakukan oleh seorang pastor paroki adalah:

  1. Mengawasi agar harta (dalam hal ini keuangan) yang dititipkan kepada reksa dana tidak hilang atau mengalami kerugian dalam bentuk apapun; jika perlu, untuk tujuan itu, dengan mengadakan kontrak asuransi
  2. Memastikan bahwa kepemilikan properti gerejawi dijamin dengan cara yang sah secara sipil
  3. Mematuhi ketentuan hukum, baik kanonik atau sipil, atau ketentuan yang ditetapkan oleh para pendiri, atau dermawan, atau otoritas yang sah, dan terutama harus menjaga agar Gereja tidak dirugikan oleh ketidaktaatan hukum sipil
  4. Menuntut dengan hati-hati dan tepat waktu hasil properti dan keuntungan; menjaganya tetap aman dan menggunakannya sesuai dengan maksud atau norma yang sah dari pendirinya
  5. Membayar pada waktunya bunga pinjaman atau hipotek yang harus dibayarkan dan mengusahakan dengan baik pengembalian modal itu
  6. Dengan persetujuan ordinaris, memanfaatkan uang yang tersisa dari pengeluaran dan menginvestasikannya secara berguna untuk tujuan-tujuan badan hukum
  7. Memelihara dengan baik buku-buku pemasukan dan pengeluaran
  8. Membuat laporan pengelolaan pada akhir tahun
  9. Menata dan memelihara dalam arsip yang rapi dan serasi dokumen-dokumen dan bukti-bukti yang menjadi dasar hak Gereja atau lembaga atas harta bendanya; jika hal ini dapat dilakukan dengan mudah, arsip otentik harus disimpan dalam arsip kuria (Kan. 1284.1-2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.