Keluhuran Martabat Manusia


Keluhuran Martabat Manusia adalah materi pertama dari tema Bab 3 Orang Beriman Menghargai Martabat Manusia materi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Kelas IX Sekolah Menengah Pertama. Pada bagian ini kita diajak untuk lebih mamahami tentang: gagasan dalam masyarakat yang keliru, tentang keluhuran martabat manusia; contoh-contoh sikap perendahan terhadap martabat luhur manusia; makna manusia sebagai citra Allah; penjelasan bahwa setiap manusia yang meluhurkan martabat diri dan sesamanya berarti meluhurkan Allah;. Memahami isi pesan Gaudium et Spes art. 12 tentang keluhuran martabat manusia; sikap-sikap Yesus yang senantiasa berjuang menjujung tinggi martabat luhur manusia serta tindakan yang menunjukkan keluhuran martabat manusia dalam hidup sehari-hari.

Berkaitan dengan tema Keluhuran Martabat Manusia ini, mari kita simak pembahasan dibawah ini!

Apakah manusia itu? Di masa silam dan sekarang pun ia mengemukakan banyak pandangan tentang dirinya, pendapatpendapat yang beraneka pun juga bertentangan: seringkali ia menyanjung-nyanjung dirinya sebagai tolok ukur yang mutlak, atau merendahkan diri hingga putus asa, maka ia serba bimbang dan gelisah. Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar Allah”; ia mampu mengenal dan mengasihi pencipta-Nya. Oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini, untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau menjadikannya berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya” (Mzm 8:5-7). Dan Tuhan menciptakan manusia tidak seorang diri, Ia memberikan penolong yang sepadan dengan dia. Dan Tuhan melihat semua itu sungguh amat baik. Keluhuran martabat manusia ini perlu dihargai oleh diri manusia sendiri. Penghargaan ini bukan hanya oleh orang lain terhadap diri kita tetapi juga oleh diri kita sendiri. Di dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang menerima kita apa adanya, kita merasa bahagia. Kita bahagia sebab kita semua memang ingin diterima dan dihargai. Kita akan menjadi kecewa apabila ada orang yang merendahkan diri kita dan menganggap kita seolah-olah tak berharga atau bahkan tak ada. Sikap menerima diri sendiri dan orang lain sebagaimana adanya merupakan sikap menghormati martabat luhur manusia. Namun demikian, kenyataannya masih ada orang yang kurang peduli terhadap nilai luhur hidup manusia, dengan melakukan suatu tindakan yang menunjukkan perendahan terhadap martabat hidup manusia.


Pages: 1 2 3 4 5